cinta cintaan


aku menyukaimu, mengagumimu, inginku kau juga memiliki rasa yang sama. mau ku kau membalas rasaku ini tapi jika cinta ini tak tepat untukmu, biarlah rasa ini kusimpan saja.
ku menyukaimu di dalam kediaman. jika engkau bukanlah jodohku biarlah cinta ini ku pendam dalam hati. mungkin aku tak tepat untukmu tapi salahkah rasa ini yang sudah terlanjur lahir ?
besar harapku kau membalas cintaku tapi jika tidak biarlah ku ikhlas. ku mencintaimu di dalam diam yang menjadi rahasiaku.

apakah engkau tulang punggungku ? apakah aku tulang rusukmu ? aku percaya tulang punggung tidak akan salah berpasangan dengan tulang rusuknya.
semoga kita segera dipertemukan dengan jodoh yang sesungguhnya. jodoh yang menjadi rahasia Allah.

Kepada jarak kutitipkan cintaku dan kepada jarak pula kusampaikan maaf ku.

Pertengkaran semalam menyisakan tangis dan luka di hati. Seharusnya waktu yang sesingkat itu kita gunakan dengan baik tapi malah kita habiskan dengan pertengkaran. Maafkan aku jika aku masih kurang mengerti kamu, masih kurang mengerti kesibukanmu di sana. Pekerjaanmu telah mengalihkan waktumu untukku. Padahal sejak awal aku telah menyadarinya, inilah sebuah konsekuensi dari hubungan jarak jauh kita tapi maafkan aku yang terkadang kelepasan akibat menahan rindu akan perhatianmu. Aku telah terjajah oleh rinduku yang membelenggu tapi kamunya seakan cuek, sibuk sendiri sama pekerjaanmu. Adakah kau juga merasakan hal yang sama ?

Aku yang di sini menahan rasa rindu dan marah-marah karena merasa dicuekin oleh kamu. Aku mendadak menjadi manusia yang menyebalkan, tak pandai menjaga emosi hingga amarah yang seharusnya diredam menjadi pemicu pertengkaran kita. Rasa rinduku sudah terlalu menggunung, rasa sayangku terasa sangat hingga membuatku marah-marah gak jelas. Kita yang sama-sama keras kepala sama-sama tak ingin mengalah. Semakin hari aku semakin menyanyangimu, tak jemu menunggu kabar darimu. Salahkah prasangka (lebih…)

Apalah arti bilangan jarak yang membentang di antara kita, ribuan kilometer terpisahkan. Bilangan hari tanpa kau di sisi, waktu yang kosong tanpa kau di sini. Bentangan jarak yang memisahkan ragaku dan juga ragamu, memisahkan sentuhan, pelukan bahkan senyummu tak jelas kulihat. Bilangan jarak memisahkan kita jauh, memaksa kita tak leluasa berjumpa. Antara kau dan aku ada jarak tempuh yang memaksa kita untuk menjalani kisah cinta jarak jauh, menyelusup menghalangi mata memandang.

Jarak hanya sederet bilangan angka, terasa jauh memang tapi apalah artinya angka-angka itu bila dibandingkan sayangku padamu yang tak terhitung oleh bentangan angka itu. Dapatkah kau menghitung berapa dalam cintaku, seberapa besar rasa sayangku, seberapa berat hatiku menahan rindu akan hadirmu bahkan seberapa tinggikah harapku akan hubungan kita. Tak terhitung, tak mampu ku menghitungnya. Hanya keikhlasan yang ku berikan. Aku ikhlas mencintaimu meski terkadang sakit menahan rindu, ikhlas menunggumu menghubungiku di saat kau sibuk dengan pekerjaanmu meski terkadang serasa diabaikan. (lebih…)

Waktu terus berjalan, hari terus berganti, tanpa disadari perubahan telah terjadi. Entah apa yang membuatnya berubah. Janji setia yang dulu telah terucap seakan dimakan waktu. Mimpi-mimpi yang pernah  dirangkai bersama telah terabaikan terhapus oleh waktu. Memang lidah tak bertulang, gampang sekali terlupakan. Tanpa rasa bersalah meninggalkan begitu saja seakan semua tak lagi berarti. Cintaku terkikis waktu.

Engkau kini tak seperti dulu , tak ada lagi namaku yang tertulis di hatimu. Tak lagi hadirku yang kau rindukan. Tak lagi diriku yang bertengger di pikiranmu. Aku seolah terhapus waktu, artiku telah tergantikan oleh sesosok baru. Bergeser oleh kisahmu yang baru. Dulu ku kira kau sungguh-sungguh padaku, tak mungkin kau menjauh, dengan keyakinan seutuhnya ku yakin kau akan memilihku tapi nyatanya tidak. Itu hanya inginku saja tapi bukan inginmu. Mimpiku berakhir dengan ending yang tak pernah ku kira. Lamanya waktu bersama tak menjamin mampu menjadi kebersaman yang abadi, benar-benar surprise dibuatnya. (lebih…)

Ini adalah kali keduanya saya nulis di blog ini tentang masalah yang sama. Sebelumnya saya pernah posting di sini beberapa waktu yang lalu dan entah mengapa jari-jari saya merasa gatel untuk menulis ulang topik ini. Kuping saya panas dan hati saya pun telah muak bahkan gerah sudah mendengar komentar orang-orang yang bisanya hanya omdo, omong doang bantu kagak. Orang-orang yang terlalu kepo. Mereka yang saya maksud di sini adalah mereka yang statusnya keluarga bukan dimana gak ada hubungan darah setetes pun. Jika yang kepo itu adalah keluarga bahkan saudara saya sendiri, okelah saya sih gak masalah karena mereka adalah keluarga dan saya maklumi itu tapi ini orang-orang yang bagi saya tak perlulah mereka tau banyak bahkan mengurusi hidup pribadi saya meski sebenarnya mungkin mereka juga care pada saya tapi entahlah bagi saya cukup sudah my life is mine, gitu.

Merujuk pada postingan saya yang lalu dimana saya benci banget sama pertanyaan bodoh dimana saya sendiri tak tau bahkan tak punya jawabannya mau jawab apa yang ada hanya dongkol di hati sambil bergumam “please deh penting ya ngurusin hidup saya” walau mungkin niat mereka baik tapi tetap saja secara tidak langsung menyakitkan saudara-saudara. (lebih…)

Aku tak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini. Apakah aku sedang putus asa atau apalah namanya aku gak ngerti. Kau tahu aku sangat mencintaimu, hadirmu mewarni hariku yang dulu sempat kelabu. Aku yang pernah terpuruk dan memutuskan untuk tidak lagi mengenal cinta bahkan enggan mengenal lelaki baru. Menjauhkan lelaki-lelaki yang hendak mencuri hatiku kembali. Mengharamkan lelaki-lelaki bajingan lainnya untuk kembali mempermainkan perasaanku kembali. Aku yang takut jatuh cinta, aku yang tak berani mengenal cinta bahkan memutuskan untuk menjadi jomblo. Ku pikir ini jauh lebih baik daripada kembali merasakan patah hati.

(lebih…)

Kamu percaya bahwa Jodoh seperti magnet? Sehebat apapun kalian berusaha mendekat, jika dia bukan untukmu, maka nanti selalu akan ada kekuatan lain yang memaksamu untuk selalu berjauhan? Dan kalau dia memang untukmu, secanggih apapun usaha kalian untuk menjauh dan melakukan apapun caranya untuk menghilangkannya dalam hidup kalian, tapi ada sebuah kekuatan yang terus mendorong kalian agar terus berdekatan?

(Lala Purwono)

Semua orang pasti udah tau bahwa jodoh, rezeki dan kematian adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Allah dan hanya Dia yang tau ketiga hal ini dan kita hanya bisa berserah diri, ikhtiar dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Mengenai jodoh, jujur saja saya udah menjalani dengan mantan-mantan saya dulu dengan niat hubungan itu berlanjut hingga ke pernikahan tapi apa mau dikata sampai hari ini saya masih menyandang status lajang.

Dengan Si A awalnya saya tak pernah berharap bisa menjadi kekasihnya dan tak pernah menyangka jika rasa yang saya pendam mendapat balasan darinya. 7 tahun lebih menjalin hubungan berharap dialah pelabuhan terakhir saya meski kami sering putus nyambung tapi tak dapat saya pungkiri saya tak dapat jauh dari bayangannya dan berdoa kepada Allah “inikah jodoh” bahkan saya sempat berkhayal dipersunting olehnya dan di hari raya Idul Fitri pulang ke kampung halamannya dengan membawa kebanggaan bisa memenangkan hatinya dari banyaknya godaan wanita-wanita di sekelilingnya. (lebih…)

1240943248F40T2cTeringat pertama kali saya mengenal cinta adalah ketika saya menginjak usia 19 tahun, waktu itu saya sedang kuliah di semester 3. Saya memang telat mengenal cinta, tidak seperti teman-teman saya kebanyakan. Dulu sewaktu sekolah tak pernah terpikirkan untuk mengenal laki-laki, jatuh cinta terus pacaran. Tidak, tidak pernah ada terbesit dalam benak saya sewaktu itu. Sehari-harinya saya hanya memikirkan pelajaran agar bisa naik kelas dan lulus supaya tidak mengecewakan kedua orang tua. Sepulang sekolah pun waktu luang saya isi dengan kursus bahasa Inggris, les kimia dan les-les yang lainnya.

Saya termasuk anak yang kurang pergaulan, jarang hang out bareng teman-teman bahkan keluar malam pun saya tak pernah kecuali dengan keluarga sendiri. Saya adalah anak rumahan yang jauh merasa nyaman berada dalam kehangatan rumah dibandingkan hiruk pikuk dan gelak tawa teman-teman saya di luar sana. Jika dibilang kuper, ya saya akui saya memang kuper, ngak gaul dan saya ngak asyik. Ya inilah saya seorang anak rumahan.

Menginjak bangku kuliah mulailah saya mengenal cinta dan itu pun karena dicomblangi sama teman dan jujurnya saya terpaksa (lebih…)

562663_443566432327409_223787057638682_1831899_1559737071_n_large

Dear sayangku,

Bahagia rasanya bisa mengenalmu, senang rasanya bisa mencintaimu dan bangga sekali rasanya menjadi bagian dari hidupmu. Mengisi sekian persen ruang hatimu. Menikmati indahnya perhatian darimu, menyelami dalamnya kasih sayang yang kau curahkan. Perhatianmu yang tak pernah kau lewati meski di tengah kesibukan kerja kau masih sempat mengirimkan sms meski ku tahu kau sibuk hingga lembur di hampir tiap harinya.

Hapuslah cemburumu walau ku tahu cemburu tandanya cinta. Kau tak perlu cemburu kepada mantanku karena yang ada kini di hatiku hanya kamu dan bukanlah dia. Biarkanlah masa lalu kita simpan dan kini adalah cerita tentang kita. Kau tak perlu juga cemburu kepada teman-teman mayaku (lebih…)

Teman-teman pasti pernah kan ditodong sama pertanyaan bodoh dimana pertanyaan ini di luar kuasa kita apakah kita tahu jawabannya. Yang pasti sih binggung dan juga terselip rasa kesal kenapa pertanyaan itu lagi yang harus diutarakan. Tak adakah topik lain yang jauh lebih menarik dibandingkan pertanyaan stupid bin bodoh ini.

Sebagai perempuan single dimana usia sudah hampir mendekati kepala 3 pertanyaan ini akan semakin sering diterima. Bukannya tidak stress menghadapinya, gila aja yang ngak. Saya yakin orang-orang yang single apalagi di usia segini masih  jomblo dan mengingat umur semakin bertambah dan mendekati kepala 3 akan semakin depresi mendengarnya. Okelah saya tahu bahwa mereka yang bertaya itu peduli pada kehidupan kita yang belum juga mendapatkan pasangan tapi sejauh ini saya menilai bahwa pertanyaan itu hanya untuk menjawab rasa ke-kepo-an mereka saja. Kalo peduli ya dibantu dong cariin pasangan buat mereka yang jomblo tapi tentu gak asal nyomblang dan harus ada asas tanpa paksaan. Nyomblangin boleh tapi keputusannya tetap diserahkan kepada dua sejoli itu apakah mereka klop atau ngak. Jangan hanya memberi cap perawan tua atau bujang lapuk. Jauh di hati mereka, mereka pun tak ingin seperti itu, hanya masalah  soulmatenya aja yang belum ketemu entah dimana bersembunyi.

Berikut saya (lebih…)

Laman Berikutnya »