1240943248F40T2cTeringat pertama kali saya mengenal cinta adalah ketika saya menginjak usia 19 tahun, waktu itu saya sedang kuliah di semester 3. Saya memang telat mengenal cinta, tidak seperti teman-teman saya kebanyakan. Dulu sewaktu sekolah tak pernah terpikirkan untuk mengenal laki-laki, jatuh cinta terus pacaran. Tidak, tidak pernah ada terbesit dalam benak saya sewaktu itu. Sehari-harinya saya hanya memikirkan pelajaran agar bisa naik kelas dan lulus supaya tidak mengecewakan kedua orang tua. Sepulang sekolah pun waktu luang saya isi dengan kursus bahasa Inggris, les kimia dan les-les yang lainnya.

Saya termasuk anak yang kurang pergaulan, jarang hang out bareng teman-teman bahkan keluar malam pun saya tak pernah kecuali dengan keluarga sendiri. Saya adalah anak rumahan yang jauh merasa nyaman berada dalam kehangatan rumah dibandingkan hiruk pikuk dan gelak tawa teman-teman saya di luar sana. Jika dibilang kuper, ya saya akui saya memang kuper, ngak gaul dan saya ngak asyik. Ya inilah saya seorang anak rumahan.

Menginjak bangku kuliah mulailah saya mengenal cinta dan itu pun karena dicomblangi sama teman dan jujurnya saya terpaksa menerima cowok ini gara-gara gak tega secara saya orangnya memang gak tegaan, gampang sekali merasa kasihan sama orang lain. Teman saya ini pintar sekali nyuntik agar saya mau menerima dan tak disangka saya yang bego ini mau saja menjadi kekasihnya meski setengah hati yang akhirnya saya menyesal sendiri dan sempat beberapa kali ingin memutuskannya tapi apa daya saya masih saja ngak tega, tinggallah saya yang menjalani hubungan yang terpaksa 😆

Saya juga pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang sosoknya sungguh amazing. 7 tahun lebih menjalin hubungan meski sering putus nyambung dengan harapan ia adalah orang yang tepat yang Tuhan kirimkan buat saya, lelaki terbaik yang akan menikahi saya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Menghabiskan weekend bersama dan mengandengnya dengan bangga ke khalayak ramai seolah mengisyaratkan bahwa saya memiliki suami terganteng yang tak dimiliki orang lain bahkan oleh mantan-mantannya.

Saya boleh saja bermimpi setinggi langit, mencintainya dengan sepenuh hati namun apa daya saya tak mampu menentang kehendak Tuhan ketika takdir menuliskan bahwa kami tak berjodoh. Sedih pastilah, patah hati tentunya, galau tak menentu. Tak semangat kerja, gak nafsu makan bahkan hati pun tak tenang. Saya merasa down, takut jika tak ada cinta yang lain, gak berani move on bahkan saya menutup hati. Saya capek patah hati dan saya letih memulai hubungan yang baru, menyelami hatinya. Saya lelah menghadapi lelaki-lelaki brengsek yang tak bisa setia pada satu hati. lelaki tak bertanggung jawab yang bisanya menghancurkan taman bunga di hati saya.

Salahkah saya jika berpikiran bahwa takkan ada lelaki lain yang mau mencintai saya dimana saya aslinya orang yang sulit jatuh cinta. Saya menjadi perempuan yang takut mencintai dan berpikiran tak ada lagi lelaki baik selain mantan saya. Saya merasa lelaki baik di dunia ini sudah habis dan parahnya saya berpikir jodoh untuk saya tidak ada, Tuhan tidak menyiapkan jodoh itu. Saya sendirian menahan pedih dan pesimis pada cinta apalagi pada pernikahan yang takkan pernah saya rasakan hanya karena stok lelaki baik di dunia ini tak ada buat saya 😦

Saya merasa kalah start saat mendengar satu per satu teman saya menikah, meski bibir mengucapkan kata selamat tetapi di lubuk hati saya iri sama mereka. Kenapa bukan saya yang menikah pada hari itu 😦

***

Syukurlah kegalauan saya tidak berlarut-larut. Berkat perjuangan yang tak mudah buat melupakan bayangan mantan dan pengikhlasan atas pengkhianatannya akhirnya saya keluar dari kelamnya hati yang galau. Saya menutup semua akses memori tentang dia. Saya ikhlas, jika lelaki baik untuk saya masih ada, syukur alhamdulillah dan jika tidak ya sudahlah saya tak dapat memaksa Tuhan. Saya mengikhlaskan mimpi-mimpi tentang pernikahan dimana saya sendiri tak tau apakah saya akan merasakannya atau tidak.

Saya pernah mematok batas ketika di usia 25 tahun saya harus sudah menikah meski saya tak tau entah dengan siapa dan kini 5 tahun telah berlalu sejak batas itu dan saya masihlah seorang perempuan single but not available dan tidak dipungkiri saya stress dengan pertanyaan keluarga dan teman kapan saya akan mengakhiri masa lajang ini. Pertanyaan bodoh yang menusuk hati dan jujur saya panik. Pertanyaan bodoh salah alamat yang sangat saya benci.

Entahlah mungkin Tuhan ingin agar saya lebih bersabar dalam penantian ini walau saya tau saya tidak sendirian. Ada perempuan-perempuan lainnya yang juga sedang menantikan penantian yang sama. Kemudian saya berkesimpulan “lebih baik telat asalkan satu untuk seumur hidup daripada cepat tapi singkat”. Ngak mau kan seperti ini yang hidupnya kawin cerai ?

***

Masih adakah, semoga saja masih 🙂