Teman-teman pasti pernah kan ditodong sama pertanyaan bodoh dimana pertanyaan ini di luar kuasa kita apakah kita tahu jawabannya. Yang pasti sih binggung dan juga terselip rasa kesal kenapa pertanyaan itu lagi yang harus diutarakan. Tak adakah topik lain yang jauh lebih menarik dibandingkan pertanyaan stupid bin bodoh ini.

Sebagai perempuan single dimana usia sudah hampir mendekati kepala 3 pertanyaan ini akan semakin sering diterima. Bukannya tidak stress menghadapinya, gila aja yang ngak. Saya yakin orang-orang yang single apalagi di usia segini masih  jomblo dan mengingat umur semakin bertambah dan mendekati kepala 3 akan semakin depresi mendengarnya. Okelah saya tahu bahwa mereka yang bertaya itu peduli pada kehidupan kita yang belum juga mendapatkan pasangan tapi sejauh ini saya menilai bahwa pertanyaan itu hanya untuk menjawab rasa ke-kepo-an mereka saja. Kalo peduli ya dibantu dong cariin pasangan buat mereka yang jomblo tapi tentu gak asal nyomblang dan harus ada asas tanpa paksaan. Nyomblangin boleh tapi keputusannya tetap diserahkan kepada dua sejoli itu apakah mereka klop atau ngak. Jangan hanya memberi cap perawan tua atau bujang lapuk. Jauh di hati mereka, mereka pun tak ingin seperti itu, hanya masalah  soulmatenya aja yang belum ketemu entah dimana bersembunyi.

Berikut saya copas tulisan Darwis Tere Liye dari akun FP nya :

Siapa di sini yang sering sekali ditanya: “kapan menikah?”

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, “Belum dapat jodohnya.” atau “Makanya cariin, dong.”, Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, “Insya Allah segera.” Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga–tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: “kapan menikah?”, “kapan nyusul?” Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?

Siapa di sini yang sering ditanya: “kapan punya momongan?”

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.

Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?

Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.

Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.

Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, “kapan nyusul yang mati?” Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, “hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?”

Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.

Mereka yang single ini kan punya alasan sendiri. Biasanya karena sibuk kerja jadi ngak punya waktu buat mencari pasangan, ada juga karena pernah disakiti atau ada juga karena menanti lamaran dari sang kekasih hati tapi sang pujaan tak jua kunjung melamar.

Satu hal yang perlu diperbaiki adalah mempantaskan diri untuk menjadi pribadi yang pantas dicintai. Buang kebiasaan buruk yang jauh dari kata bermanfaat dan juga perbanyak ilmu entah itu ilmu memasak, ilmu agama. Yah ilmu yang bermanfaatlah jadi di saat dilamar kitanya udah punya ilmu dan siap  memasuki dunia pernikahan (duh, saya udah ngerasa paling benar aja nyatanya saya pun juga butuh banyak belajar)😳

Jadi intinya, berhentilah menanyakan “kapan saya menikah” insya Allah jika Allah mengizinkan segeranya karena saya pun tak tau pasti tanggal dan bulannya kapan (ngarepnya sih tahun ini juga)😳 karena menanyakan kapan pernikahan saya itu sama saja dengan menanyakan kapan saya akan dipanggil Nya, kan saya tidak tau. Jodoh, rezeki dan kematian adalah rahasia sang pencipta dan hanya dia yang tahu jawabannya.

Seharusnya mereka yang bertanya itu jangan bertanya kepada individunya karena itu salah alamat tapi tanyakanlah kepada Tuhan. Mengapa dia belum juga menikah dan seharusnya turut mendoakannya juga agar segera bertemu dengan pemilik tulang rusuknya. Nah kalo gini kan enak, ya ngak ya ngak ?😆