Mulutmu harimaumu, pernah dengar pepatah ini kan? yup pepatah ini akrab sekali dan sering kita dengar (terutama dulu sewaktu sekolah pelajaran bahasa Indonesia)😀 Gara-gara mulut yang tak bisa dijaga, maka bisa menimbulkan malapetaka. Gara-gara mulut yang asal ngomong bisa melukai hati orang lain dan hanya karena mulut yang tak bisa dijaga juga mengakibatkan pertengkaran dan kebencian. Hanya karena satu organ tubuh kita yang tak bisa dijaga, hidup tak bahagia. Dibenci dan dimusuhi oleh lingkungan.

Menjaga mulut sama halnya menjaga emosi. Jika emosi tak terkontrol maka mulut mengeluarkan kata-kata yang tak sedap didengar. Hendaknya emosi dan mulut dijaga beriringan dan jika perlu mulut dikunci aja ketika emosi akan meledak. Bisa-bisa peperangan timbul karena mulut yang sembarangan bicara.
Untuk menjaga mulut tidak meledakkan emosinya hendaknya dibutuhkan kesabaran. Sabar menahan kosa kata yang siap meluncur dan dikurung agar tidak keluar kebablasan. Sabar adalah remote pengontrol mulut. Ia menjaga hati dan emosi kita agar mulut tetap menjaga kosa katanya agar tak sembarangan bicara. Jika perlu mulut disekolahkan dululah biar tahu sopan santun dan tata bicara yang baik (dimana yah sekolahnya, emang ada yah😆 )

Nah bicara soal emosi dan mulut, saya sering sekali hampir kebablasan ketika menghadapi konsumen yang cerewetnya minta ampun. Bukan hanya cerewet tapi banyak maunya dan juga ngomong seenak perutnya. Konsumen yang ngomong asal aja dan berbicara mengeluarkan kata-kata yang tak sedap dan tak pantas. Seolah-olah lawan bicaranya ini batu yang tak punya hati. Mereka sih boleh-boleh aja complain mengeluarkan unek-unek dan keluhan mereka tapi tentunya dengan cara yang sopan kan kita sama-sama enak ngobrolnya dan bukan ngomong seenaknya ditambah lagi emosi yang meletup-letup (bisa gak sih gak pake urat, biasa aja pak bu ngomongnya toh saya kan gak budek).

Menghadapi konsumen yang beginian udah sering dan gak terhitung dan selalu saja memancing emosi saya untuk ikutan meledak juga dan mengeluarkan kata-kata yang tentunya akan semakin menyakitkn. Okelah untuk menit-menit pertama saya masih bisa bersabar dan menjawab keluhan mereka dengan senyum yang dipaksakan dan menjaga agar mini market ini tetap dipandang baik karna karyawannya yang ramah tapi si konsumen bawel ini masih aja nyerocos gak karuan ngotot sama egonya dan tidak terima penjelasan yang telah saya berikan. Berulang kali saya jelaskan dengan cara baik-baik tapi masih saja si konsumen ini meledak-ledak  dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Makin lama emosi saya pun bisa-bisa ikutan terpancing juga. ” Pak bu saya kerja di sini dengan niat baik-baik bukan untuk diomelin dan dimarahi seperti ini dan saya hanya seorang karyawan biasa yang menjalankan perintah dan aturan dari atasan saya dan jika bapak ibu tidak puas silahkan menemui atasan saya langsung di toko kami satunya. Saya pun yakin bapak ibu akan mendapatkan penjelasan yang sama dengan apa yang telah saya jelaskan. pfuh… jadi orang kok ngeyel sih mau pake bahasa apa lagi sih biar ngerti “.

Walau katanya konsumen adalah raja tapi bukan segininya juga kale. Raja yang seenaknya. Konsumen adalah sahabat yang bisa diajak berbagi dan sharring pendapat dan bukannya menjatuhkan mentang-mentang ia punya duit buat beli segalanya. Saya lebih menghormati konsumen yang tak sombong dan ramah bukannya angkuh dan sok. Toh di atas kaya ada yang lebih kaya lagi.  Yang nyatanya beneran kaya dan berduit aja tidak sombong bahkan mereka mau berbagi.

ANDA SOPAN KAMI PUN SEGAN !!!

Dengan menahan emosi yang siap meledak dan kata-kata yang direm sehalus mungkin saya tetap memasang wajah ramah padahal di hati udah kesel banget. Sepertinya saya memang tak berbakat menjadi costumer service, butuh ekstra kesabaran nampaknya. Untung saja mulut saya masih bisa ngerem untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menusuk.