Jarum jam menunjukkan pukul 23.50 dan dalam waktu sepuluh menit lagi tanggal di kalender akan segera berganti. 2011 tahun dimana banyak sekali peristiwa yang aku alami, penuh warna warni layaknya siang dan malam. Ada masanya hidup ini indah, penuh ambisi dan menyenangkan. Hangat terasa sehangat mentari pagi tapi ada pula masa di mana cahaya mentari itu terasa menghilang, ku nantikan kehadirannya tapi lama terasa hadirnya.

Aku yang sedang dinaungi kebingungan, dirundung masalah, dipayungi awan kesedihan berjalan pada kerikil-kerikil tajam yang menyakitkan. Jalan ini terasa amat panjang dan entah di mana ujung dari kegelapan ini. Tak ada segaris senyum pun menghiasi wajahku, pandangan mata itu kosong. Rentetan slide peristiwa dari masalah yang sedang menghampiriku terus mengisi pikiranku. Ku coba untuk berhenti mengenang peristiwa pahit itu tapi tanpa ku sadari slide itu kembali menghinggapi alam pikiranku. Menari indah tanpa rasa berdosa. Semakin kuat otakku melupakan persoalan ini, semakin kuat pula slide itu berseliweran berjalan di benakku. Menguras emosi, air mata dan kesabaran yang kumiliki.

Tuhan, rencana apa lagi yang sedang kau rencanakan untukku. Mengapa persoalan ini harus ku hadapi kembali, tak cukupkah ketakutan yang dulu pernah ku rasakan. Masih kurangkah kekawatiran dan stress yang dulu pernah ku alami. Apa yang sedang engkau rencanakan Tuhan ?

Jam menunjukkan pukul 00:00 suara letusan kembang api bergemuruh mengalahkan suara-suara jangkrik yang tak ingin kalah saing. Kilatan kembang api menghiasi langit malam bersama sepotong bulan sabit. Malam yang indah tapi semua tak seindah rasaku yang sedang dipayungi gumpalan awan hitam. Awan itu menutupi matahariku, menghadang cahayanya menerangi langkahku. Sketsa gumpalan-gumpalan tak beraturan seolah menggambarkan kekusutan syaraf-syaraf otakku. Bergerak mengikuti irama langkah kakiku.

Semua orang menyambut gembira malam pergantian tahun, meminta permohonannya di tahun yang baru tetapi tidak pada ku. Aku sedang tidak bersemangat, jarum jam yang terus bergerak, angka-angka di kalender yang terus berganti. Semua biasa saja bagiku, let it flow begitu pikirku.

Ya Allah, keluarkan kami dari kemelut persoalan ini. Jangan biarkan perpecahan terjadi di antara kami. Ada hikmah apa di balik semua kemelut ini. Jika ini cara Mu mengajarkanku agar menjadi perempuan yang tangguh, berikan aku kekuatan melewati awan – awan hitam ini. Bagikan aku telapak kaki yang kuat agar mampu ku melewati anak-anak kerikil tajam yang menusuk langkahku. Berilah petunjukmu agar mentari itu lekas kami temukan.

*****

Kamar, 31 Desember 2011