Aku pernah terperanjat sendiri di ruangan itu, kaget pada suatu hal yang tak pernah ku temui sebelumnya. Aku juga pernah menangis di ruangan itu bersama adikku. Rasa takut dan iba yang menghampiri kami. Aku juga pernah menyesali kebodohanku yang tidak berbuat apa-apa ketika kedua orang tuaku memutuskan tuk berpisah. Aku hanya bisa menangis dan menyesali ketidak pedualianku waktu itu.

Sedihnya hatiku ketika mendengar pertengkaran mereka dari balik dinding kamarku, mendengar cek cok kedua orang yang sangat ku sayangi. Kata cinta yang seharusnya ku dengar menjadi kata-kata amarah πŸ˜₯

Aku hanya seorang bocah yang berseragam merah putih, tak mengerti masalah orang dewasa. Aku dan adik-adikku hanya menginginkan rukunnya kedua orang tua kami, itu saja. Alangkah indahnya di saat kami berkumpul dan bercengkrama bersama di ruang tamu. Bercanda sambil bercerita pengalaman kami hari ini. Nonton tv bersama hingga kami tertidur pulas. Sang Ayah pulang dengan rasa cinta yang segunung dan Ibu menyambutnya dengan segelas teh manis hangat. Makan bersama menikmati lauk seadanya dengan bumbu cinta dari Ibu.

Salahkah aku jika aku pernah merasa iri pada rumah orang lain, sebuah rumah yang berisi cinta dan kasih sayang. Sebuah keluarga yang harmonis dengan kehangatan kebersamaan. Aku iri sekali pada mereka.

***

Ada rahasia di balik rahasia. Aku bersyukur, Allah menyanyangi kami. Perpisahan membuat kami tegar, mengajari kami untuk mampu berdiri pada kaki kami sendiri dan juga untuk tidak cengeng apalagi terjerumus pada hal negatif akibat broken home.

Meski keluargaku broken home tapi aku lebih beruntung dibandingkan keluarga broken yang lain. Kedua orang tua ku berpisah tapi mereka tetap menjalin tali silaturahmi bahkan ibu seringkali curhat kepada ayah, meminta ayah membantunya di dalam kesulitan. Betapa senangnya hatiku melihat keakraban di antara mereka, duduk bersama sambil menikmati segelas teh manis hangat walau mereka bukanlah pasangan suami isteri lagi. Bahagianya aku melihat mereka yang saling memaafkan di depan mataku sendiri. Sebuah maaf di hari raya Idul Fitri.

Jodoh mereka telah usai tapi tidak pada silaturahmi.

Ku rindu kebersamaan itu, ku rindu senyum dan tawa itu, dan ku juga merindukan pelukan hangat mereka. Aku sangat merindukan masa-masa indah yang tak mungkin kudapati lagi. Seandainya saja waktu dapat dimundurkan tak akan aku tega menyakiti hati mereka dan akulah orang pertama yang akan berjuang keras memperjuangkan keutuhan keluarga kami. Akan ku tukar semua bahagiaku dengan waktu bersama mereka.

*****

Tidur yang tenang ya Ibu dan semoga lekas sembuh ya Ayah… πŸ˜₯ peluk dan ciumku buat kalian berdua. I miss you so much 😦

Iklan