Senin hingga minggu, hari-hari yang saya lewati seperti biasa. Aktivitas yang saya lakukan pun masih sama seperti kemarin. Di tempat kerjaan pun setiap hari saya bertemu orang-orang yang berbeda dengan aneka sifat dan kehidupan. Letih, tentu saja tapi saya mencoba untuk ikhlas menjalani semuanya๐Ÿ™‚

Kali ini setelah selesai mendirikan ibadah shalat maghrib saya lanjutkan dengan membaca Al-Quran. Sudah lama sekali lidah ini tidak membaca rangkaian indah ayat-ayat suci Nya. Terasa rindu yang sangat di dalam hati. Jiwa ini terasa kosong tanpa untaian indah ayat indah Nya yang sudah lama sekali tidak keluar dari mulut saya. Sekian waktu sudah saya jauhkan lidah saya dari kata-kata indah Al-Quran.

Ayat demi ayat saya baca walau tak seindah seorang qori. Alhamdulillah saya bisa membaca dengan lancar. Saya bersyukur sekali bisa membaca Al-Quran. Ada rasa nyaman yang tanpa disadari menyusup ke dalam hati, terasa tenang dan dekat Kepada Nya. Hati saya bergetar dan kadang terharu setiap kali membaca ayat Al-Quran, ditambah lagi jika saya membaca terjemahannya pada Jus Amma kecil milik saya. Sungguh membuat saya merinding karena kuasa Nya yang tak terbatas dan menjadikan saya takut pada azab Nya.

Ketika lidah ini dengan lancarnya mengaji tiba-tiba pikiran saya teringat pada seseorang yang mengajari saya mengaji ketika dulu saya masih duduk di bangku SD. Dia adalah seorang kerabat kami yang biasa dipanggil nenek namanya Nenek Simas. Sejak pindah dari rumah nenek datuk (orang tua Ibu) sejak itu saya tak lagi belajar mengaji dengan Datuk dan Ibu tak ingin anak-anaknya buta baca Al-Qur’an maka ia meminta Nenek Simas untuk mengajari saya dan adik mengaji dengan memberikan sejumlah upah setiap bulannya.

Setiap jam 5 sore sehabis pulang dari sekolah madrasah saya dan adik pergi mengaji ke rumah Nenek Simas walau terkadang kami dilanda rasa malas tapi dipaksakan karena takut Nenek akan menceritakan kepada Ibu jika kami tak datang ke rumahnya. Antara rumah kami dan nenek berada bersebelahan RT dan hanya dipisahkan oleh sebuah anak sungai kecil. Saya sangat senang sekali jika banjir datang kami tak bisa mengaji karena rumah nenek terkena banjir dan saya bermain air bersama anak-anak di sekitar rumahnya.

Semakin saya membaca lantunan ayat-ayat Al-Quran, kilasan-kilasan peristiwa masa kecil saya dan nenek semakin jelas. Saya duduk di hadapannya dan dengan menggenakan kaca mata dia menyimak bacaan mengaji saya dan akan meralatnya jika ada yang salah. Dia mengajari saya cara mengaji yang benar dan saya akui ilmu yang saya dapatkan dari nenek semakin bertambah. Alhamdulillah mengaji saya semakin bagus.

***

Kini tak ada lagi nenek yang biasa mengajari saya mengaji karena pada tahun 2010 kemarin nenek menghembuskan nafas terakhirnya. Allah memanggilnya. Nenek Simas bukannlah orang kaya, hidupnya pun sangatlah sederhana. Dulu sewaktu sehat dia biasa bekerja sebagai tukang cuci dari pintu ke pintu untuk menghidupi dirinya dan seorang cucunya karena anak semata wayangnya telah lama meninggal karena kecelakaan di laut sewaktu sang cucu masih bayi. Dari hasil keringatnya dia telah mampu menyekolahkan cucunya hingga SMA.ย  Tak ada harta warisan yang bisa dia tinggalkan tapi bagi saya warisan dari dia yang sangat berharga yang saya dapatkan adalah ilmu mengaji. Maka tak heran ketika saya mengaji seringkali pikiran saya akan flash back terkenang pada beliau dan juga pada ilmunya. Saya bangga bisa membaca Al-Quran.

*****

Terima kasih banyak Nenek, jasamu sangat besar dan ilmumu pun sungguh sangat bermanfaat. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya dan menempatkannya di tempat yang paling baik.