Di suatu sore yang cerah, matahari masih terasa terik menggigit kulit. Seakan-akan belum juga bergerak ke arah barat. Hari ini terasa amat gerah hingga membuat saya malas keluar walau hanya sebentar untuk membeli segelas jus jeruk di depan gedung ini. Akhirnya saya putuskan menghabiskan sore ini dengan online sebelum jam pulang kerja tiba. Tiba-tiba terdengar nada sms masuk ke hp saya. Sebuah sms dari seorang perempuan yang baru saja saya kenal di tahun kemarin. Perkenalan kami hanya lewat hp dan meski kami tak pernah bertatap muka langsung tapi rasanya kami seperti memiliki satu persamaan.

Persamaan yang tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, kami mencintai laki-laki yang sama dan laki-laki ini dulunya adalah pacar pertama saya yang sekarang telah menjadi suaminya. Awal perkenalan kami pun tak terduga. Dia menelpon di tengah sibuknya pekerjaan saya. Dia ingin berkenalan dengan saya yang katanya suaminya masih menyimpan nomor hp saya dengan nama “Cinta Abadi” (merasa tersanjung dengan julukan ini) 😳

Si “Y” memang tak pernah mau pisah dengan saya dan berpuluh-puluh kali meminta saya kembali padanya tapi entahlah banyak hal yang membuat saya memutuskan untuk memilih berteman saja dengan dia. Empat tahun kami menjalin kasih dan sejak pisah saya tak pernah mau lagi bertemu dia karena saya tak ingin memberinya harapan kosong. Komunikasi kami hanya via hp dan itu pun sesekali.

Sejak tahun 2009 kami putus komunikasi, nomornya gak pernah lagi aktif dan saya lost contact dengan dia. Saya pikir cerita kami selesai tapi ternyata tidak tahu-tahu seorang perempuan yang mengaku baru saja 2 minggu dinikahinya menelpon saya dan ingin tahu hubungan lama yang tak pernah saya ingat lagi. Gara-gara nama di hp itu mereka bertengkar dan saya minta maaf telah membuat mereka berantem tapi sejujurnya saya jelaskan pada “S” (istrinya) bahwa kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Akhirnya permasalahan ini selesai πŸ™‚

Saya dan “S” semakin akrab, dia seringkali curhat dan berkeinginan tuk bertemu tapi sayang sampai sekarang belum kesampaian meski kami tinggal di kota yang sama. Sejak akrab dengan dia saya malah tidak pernah lagi berkomunikasi dengan suaminya (kok bisa ya mantan dan istri kompak gini) πŸ˜†

Hari itu “S” mengirimkan kabar gembira bahwa dia sedang hamil tapi sayang mereka masih saja bertengkar. Si “Y” kini kembali mengkonsumsi narkoba dan suka memukul istrinya walau ia tahu istrinya sedang mengandung anaknya. Dulu “Y” yang saya kenal sudah berhenti dari narkoba dan mau mengikuti nasehat saya tapi kenapa kini sangat berubah.Β  Si “Y” yang pernah saya kenal lembut, penyanyang dan selalu ceria kini berubah menjadi seseorang yang ringan tangan. Apa ini dampak dari narkoba ya ? πŸ˜•

Mereka memang seringkali bertengkar bahkan sejak awal pernikahan mereka. Saya memberikan solusi agar “S” menceritakan saja permasalahan ini kepada mertua dan iparnya untuk menasehati perlakuan suaminya tapi Ibu mertua sedang sakit dan “Y” sedang tidak akur dengan kakaknya :mrgreen: binggung ya….

*****

Di suatu sore yang lain “S” kembali sms saya dan meminta ijin untuknya menginap di rumah saya karena dia sedang kabur dari rumah dan menghindar dari suaminya. Di Jambi dia tidak punya satu orang pun keluarga karena dia berasal dari Bandung. Tinggal dengan suami di tanah orang. “Y” selalu menelpon dan sms istrinya tapi semua itu tak digubris oleh dia. Entahlah ada apa dengan pasangan ini.

Saya merasa kawatir jika ada seorang perempuan yang tengah mengandung kabur dari rumah dan memilih menghindar dari suaminya. Seorang perempuan hamil yang layaknya mendapat kasih sayang dari suaminya malah sebaliknya dan saya tak berani terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Biarlah saya menjadi tong curhatnya asalkan hatinya bisa lega.

*****

Note : Barusan pasangan suami istri ini menelpon saya untuk janji ketemuan esok dan saya merasa bahagia dari suaranya mereka telah baikan dan mungkin inilah yang dinamakan riak-riak hidup berumah tangga. Dari mereka saya  mendapatkan pelajaran baru yang bermanfaat 😳