Seharusnya saya tidak membiarkan diri saya terhanyut terlalu jauh. Terbawa arus melangkah tanpa tujuan. Mengambang tanpa arah. Menyeret dimana saya sendiri tidak tahu kemana saya akan dibawa.

Seharusnya saya tidak membiarkan diri saya lengah hingga lupa diri. Terbuai pada janji dan harapan manis yang tak pasti. Terpedaya oleh keindahan semu. Terhipnotis oleh kesilauan pesonanya.

Seharusnya saya mencegah rasa untuk tidak bermain hati. Berpegangan erat pada logika. Mengesampingkan kesombongan dengan tujuan meraih pujian manusia. Seharusnya saya bisa berpikir jernih tanpa terpengaruh ketamakan duniawi. Seharusnya oh seharusnya…..

Kini semua telah terjadi, saya telah melibatkan diri pada masalah yang saya ciptakan sendiri. Saya telah terlanjur masuk pada sebuah kebimbangan yang saya buat sebelumnya. Saya yang lengah hingga terbuai masuk pada kebodohan yang pada akhirnya menyusahkan sendiri.

Saya yang memulai, maka semua akibatnya harus saya hadapi. Masalah ini harus saya pertanggung jawabkan dengan sikap berani. Sayalah yang bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan pada diri saya. Saya harus menghadapi resiko dari ulah saya sendiri. Saya yang salah yang gampang sekali tergoda. Saya memang plin plan tak berani memilih, makaΒ  tak salah jika hati mulai goyah kini.

Semua kerisauan ini harus segera saya akhiri karena sayalah yang bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan. Makin hari kebodohan ini semakin membebaniku.

Iklan