Sore ini saya bertemu seorang tuna wicara dan saya ingat sekali bagaimana lelaki ini berusaha mengajak saya ngobrol dengan keterbatasannya. Saya dapat merasakan kesulitannya tuk mengungkapkan maksudnya, seperti tadi ia meminta saya secarik kertas untuk menulis dan  saya berusaha mengerti maksud pembicaraannya dengan gerak tangan dan ekpresi yang dia tunjukkan. Seadainya lelaki ini bisa berbicara pasti dia tak akan merasakan sulitnya berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar.

Setelah berjam-jam, pertemuan saya dengan lelaki tadi terus membayangi pikiran saya. Betapa beruntungnya kita yang memiliki anggota tubuh sempurna tanpa ada cacat / kekurangan. Tidak sepantasnya jika disalah gunakan.

Mulut, anggota tubuh yang satu ini berguna sekali agar kita dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Dengan mulut kita bisa bicara, bernyanyi, mengaji dan juga berdakwah (bagi para pendakwah). Hendaknya anggota tubuh yang satu ini digunakan dengan sebaiknya, tidak untuk menghina, mengejek dan mengumpat orang apalagi menyebar gosip.  Saya pernah dengar kelak katanya di akhirat nanti kita akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah termasuk mulut. Apa yang telah mulut ucapkan selama kita hidup. Adakah digunakan dengan kebaikan atau malah sebaliknya.

Ada orang yang sulit bicara karena keterbatasannya maka tidak sebaiknya  kita yang bisa berbicara malah menggunakan mulut untuk mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Adanya permasalahan juga bisa disebabkan dari mulut. Bukankah diam lebih baik daripada menyakiti hati orang lain dan ingatlah bahwa dari mulut pun bisa menyebabkan permusuhan dan kebencian. Mulutmu adalah harimaumu, maka gunakan mulutmu dengan sebaik baiknya.

*****

Terima kasih kepada lelaki tadi sore yang tak sengaja telah memberikan saya sebuah pelajaran sederhana tapi sangat bermakna🙂