Semua yang ada di bumi ini semua adalah milik Sang Pencipta. Harta, jabatan semua milik Nya dan tak luput orang-orang yang saya sayangi dan juga diri saya sendiri juga milik Allah swt.

Saya beruntung sekali memiliki orang-orang yang sangat menyanyangi saya. Setiap hari saya selalu ditemani dan dikelilingi orang-orang yang baik hati. Betapa beruntungnya saya memiliki mereka. Orang-orang yang peduli dan mencintai saya dengan tulus. Bukannya saya sombong ataupun sok laku tapi saya merasa bangga memiliki lelaki-lelaki yang mengharapkan cinta saya😳

Saya sadar semua yang saya cintai dan sayangi milik Allah, maka tak pantas jika saya mengklaim diri memiliki semuanya. Bahkan seperhatian dan se protect apa pun saya menjaganya kelak semua akan kembali kepada Nya. Tak ada daya dan hak saya untuk mempertahankan segala sesuatu yang jelas-jelas kepunyaan Nya. Tidak ada hak saya sedikit pun. Saya dilahirkan tidak memiliki apa-apa dan kelak kembali pun tak membawa apa-apa kecuali kain kafan dan amal ibadah.

Sungguh saya merasa malu sekali kepada diri saya sendiri yang sebelumnya gampang sekali terbakar cemburu dan merasa diri ini paling berhak memiliki Dia. Semua yang saya miliki dan sayangi harus berada di dalam genggaman saya. Semua harus tunduk pada aturan saya. Sekuat tenaga saya mempertahankan apa yang saya miliki dan dengan segala cara saya mempertahankannya walau kadang dengan cara yang salah sekali pun. Saya ingin semuanya dapat saya kendalikan dan tak ada yang boleh membantah keinginan saya. Oh…. betapa egoisnya saya ini dan saya termasuk contoh mahkluk yang sangat menyebalkan. Saya yakin pasti Dia merasa tak nyaman di dekat saya dan merasa terganggu dengan sifat buruk saya ini.

Lama kelamaan ternyata cemburu ini menyiksaku. Semakin lama sifat ini berkembang di hati, semakin saya tidak merasa nyaman dan rasa sakit hati ini semakin membesar hingga saya tak bisa lagi merasakan apa itu bahagia dan tak lagi mengenal dengan kata “Ikhlas”. Saya sudah melenceng jauh dari Allah.

Kini saya baru sadar betapa bodohnya saya selama ini. Apa yang telah saya lakukan dan juga yang telah saya tanamkan dalam diri saya semua tidak dapat membuat saya bahagia. Penyakit-penyakit hati ini semakin merontokkan iman saya. Semua yang saya miliki tidak akan saya bawa mati bahkan orang-orang yang saya sayangi dan kekasih / suami sekali pun tidak akan saya bawa hingga ke dalam kubur. Mereka semua akan saya tinggalkan atau mungkin mereka yang akan meninggalkan saya sendirian di dalam kegelapan. Buat apa jika sekuat tenaga saya mempertahankan mereka hingga mengorbankan hak kebahagiaan saya. Toh pada akhirnya saya akan sendiri dan melepaskan mereka. Terdengar naif memang. Hanya amal ibadah yang kan setia menemani saya, dialah sahabat sejati yang sesungguhnya.

Masalah siapakah yang akan menjadi jodoh saya kelak biarlah saya serahkan pada Allah saja yang mengurusnya. Saya sudah tak mau lagi memusingkan pikiran saya dengan nafsu dunia. Saya percaya Allah memberikan yang terbaik untuk saya. Saya harus terus menanamkan rasa ikhlas di dalam hati saya dan berbaik sangka atas semua yang terjadi pada diri saya demi tercapainya impian saya, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat.