Harapan, keinginan, permohonan atau impian semua memiliki arti yang sama. Sesuatu yang belum dicapai untuk dapat dimiliki, digenggam erat di tangan tapi apa daya jika sekian lama diharap-harapkan ternyata harapan itu semakin jauh tak kunjung mendekat.  Mungkin harapan yang telah lama diimpikan harus diperbarui dan memilih harapan lain yang jauh lebih realistis.

Teruntuk seseorang :

Seandainya dulu di pertengahan 2003 kita tak bertemu mungkin  aku tidak akan pernah menaruh harapan lebih padamu. Aku pikir kamu sungguh-sungguh padaku dan mampu membahagiakanku tapi ternyata tidak. Aku kira kamu serius tapi apa daya kata serius hanya sebatas di bibir. Bukankah cinta tidak hanya kata-kata tapi juga butuh tindakan??? tapi setelah sekian lama kita bersama ternyata terbukti kau tak bisa mewujudkan harapku. Sebuah harapan bahwa kau kan mengubah hidupku, membawaku menuju keseriusan yang selama ini kau janjikan.

Jika pada akhirnya di awal 2009 aku terpaksa mengundurkan diri dari hidupmu maka jangan salahkan aku, tanyakanlah pada dirimu sendiri. Apa sebab aku begini.

Kenapa? kamu terkejut, tidak menyangka aku bisa nekat mengambil keputusan ini? Kamu tidak terima dan belum ikhlas melepasku? Sebelumnya kamu memang tak pernah berpikir bahwa aku akan pergi dari hidupmu tapi apa daya. Aku sudah tak sanggup lagi mengikuti jalan hidupmu dan segala caramu. Cukup sampai di sini kau menyiksaku, mengantung hatiku. Walau berat, melepasmu adalah pilihanku.

Kini berhentilah mengusikku dengan memberi harapan baru yang ternyata terbukti harapan segar yang kau tiupkan padaku masih bernasib sama. Tak ada bedanya semuanya NOL BESAR. Tak ada perubahan, yang diharapkan jauh dari harapan. Semakin jauh dari kata “harap”. Aku memang sudah putus asa padamu hingga akhirnya berhenti berharap. Lepaskan dan aku ikhlaskan.

Biarlah aku tenang bersamanya.