Dari hari ke hari jaman terus berkembang, teknologi semakin maju dan manusia semakin aneh bin edan. Saya masih ingat sekali dulu ketika masih duduk di bangku SD di awal tahun 90-an segala informasi yang dibutuhkan hanya bisa didapatkan dari televisi, koran dan buku. Bahkan ketika masih kuliah pun di awal tahun 2000-an ketika ada tugas atau menyusun skripsi maka tempat yang membuat saya terpaksa betah berlama-lama di sana adalah perpustakaan.

Buku menjadi sumber pengetahuan dan mendadak saat itu saya menjadi kutu buku dadakan. Berteman dengan buku yang tebalnya minta ampun. Tidak hanya satu buku bahkan lebih banyak dari itu. Ke sana kemari menenteng buku, skripsi dan makalah.

Padahal sebelumnya ketika di semester awal kuliah saya masih enggan untuk bersahabat dengan perpus. Memasuki ruangan perpus membuat saya sakit mata melihat deretan buku tebal, alergi dengan kesunyiannya dan membuat pantat saya tak betah duduk lama di sana seakan-akan ada duri yang menusuk.Β  Entah kenapa semakin lama menyandang status mahasiswa seolah-olah perpus terus menggoda saya. Memanggil saya dengan bujuk manis rayuannya. Mengajak saya berkenalan dengannya lebih dekat lagi. Menjanjikan kekayaan ilmu yang terkandung di dalamnya. Jika kau ingin cepat menyelesaikan skripsimu maka dekatilah aku, begitu katanya πŸ˜†

Walau pada saat itu internet telah ada tapi belum se familiar sekarang. Warnet belum menjamur seperti saat ini walaupun sehari-hari saya menyentuh internet tapi tak pernah saya manfaatkan tuk mengali informasi di dalamnya. Saya lebih memilih buku dengan tebalnya hingga ratusan lembar yang sukses membuat mata dan kepala pusing bolak balik buku. Untuk menunjang skripsi yang tengah saya susun maka saya membutuhkan buku dimana di dalamnya berisi teori dan pendapat para ahli suatu bidang ilmu pengetahuan yang mendukung tulisan saya. Membaca buku terasa lebih afdol, ada bukti halaman tulisan dan bisa saya buktikan di hadapan dosen pembimbing dan juga dosen penguji πŸ˜€

Beberapa hari yang lalu sepupu saya yang masih duduk kelas 4 SD diberi PR pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) oleh gurunya. Soal yang diberikan adalah ia harus mencari nama gunung, pegunungan, sungai 33 provinsi di Indonesia. Dengan mudahnya sekejap saja ia telah menemukan jawabannya, tak perlu masuk perpus atau bolak balik buku. Ia hanya membuka halaman google dan mengetik key word yang diinginkan. Pada website wikipedia Indonesia ia menemukan jawabannya lengkap tanpa harus mencontek teman. Anak jaman sekarang enak benar ya, ngak perlu pusing cari aja jawabannya di internet.

Dulu ketika saya SD, untuk mencari tahu jawaban soal-soal seperti ini tak semudah sekarang yang dengan sekejap klik bisa dapat. Saat itu saya hanya memegang buku Pintar (lupa nama pengarangnya) dan buku RPUL. Jawaban dari soal-soal IPS bisa didapatkan dari kedua buku ini bahkan nama presiden di seluruh negara dan profil negaranya pun lengkap ada.

Cover RPUL yang sedikit usang

 

Kadang saya berpikir enak benar anak sekolah jaman sekarang, ngak perlu pusing nenteng buku, keluar masuk perpus tapi cukup masuk warnet dan duduk manis di depan komputer maka apa yang mereka cari akan dengan mudah mereka dapatkan.

Iklan