28 Oktober 2005 tepat hari ulang tahunnya, saat itu ia memintaku untuk bersedia bersamanya merayakan kebahagiaannya. Ia berencana mengajakku pergi makan malam tapi sayang niatnya tak dapat saya penuhi. Entahlah saat itu saya merasa ragu tuk pergi berdua dengannya. Bukannya saya tak percaya dia. Setiap hari kami bertemu, ngobrol, dan bercanda. Saat itu hati ini merasa berat untuk memenuhi permintaannya dan saya telah membuatnya kecewa pada hari itu.

Hampir setiap malam ia rajin sekali mengirimkan sms romantis. Saya tak pernah merasa curiga dan bahkan memintanya untuk mengirimkan lebih banyak lagi sms romantis lainnya. Tak pernah terbesit di pikiran saya jika maksud dari semua sms itu menunjukkan ungkapan hatinya. Diam-diam dia menyimpan rasa tapi saya tak pernah peka. Semua keakraban kami saya anggap bentuk sebuah pertemanan. Semua perhatian yang telah saya berikan menunjukkan rasa peduli saya pada seorang teman tapi tidak dengan dia. Dia beda mengartikannya tapi sekali lagi saya mengecewakannya. Saya tidak bisa menerima cintanya karena sejak dari awal saya hanya menganggap dia hanya seorang teman. Tidak lebih, saya menolaknya.

Hubungan kami sempat renggang karena sejak saat itu saya mencoba tuk menjaga jarak darinya dan tak mau memberinya harapan. Waktu terus berlalu dan pertemuan kami sudah tidak sesering dulu, hanya sesekali tapi kami tetap bertegur sapa dan menganggap semua baik-baik saja.

Sesekali kami ngobrol via ym, fb dan sms. Dia masih tetap baik dan perhatian sama seperti dulu dan saya mencoba tuk menyeimbangkannya. Semua sms yang saya kirimkan selalu dibalasnya dengan ikhlas, menjawab hal-hal yang tidak saya mengerti dengan lapang hati. Tali silaturahmi itu masih tetap terjaga meski kami sudah jarang bertemu walau tinggal di satu kota yang sama.

Tahun 2010 setelah bulan Januari kami masih bertegur sapa di ym dan fb. Saling menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing. Kini dia telah bekerja di Dinas Pemadam Kebakaran sebagai salah satu staff kantor. Hari-harinya disibukkan dengan pekerjaan  dan yang saya tahu saat itu dia sehat.

Saat itu dia menanyakan “kapan saya akan menikah” saya tak dapat menjawabnya karena saat itu hubungan saya dan Panda sedang dilanda masalah. Dia menyarankan agar segera menikah karena pertimbangan umur saya. Pertanyaan itu saya kembalikan kepadanya tapi dia mengatakan bahwa jaman sekarang susah mencari seorang perempuan baik yang bisa menerima dia apa adanya, mau menerima kekurangan dan kelebihannya. Saya mengerti maksud ucapannya karena saya menyadari fisiknya yang sedikit beda dengan yang lain. Dia tidak cacat tapi dia beda (maaf saya tak bisa mengambarkannya). Tanpa ingin membuatnya berkecil hati saya katakan padanya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuknya, mungkin saat ini belum waktu yang tepat untuk dipertemukan tapi percayalah Allah pasti telah menyiapkan yang terbaik untuknya. Semua kan indah pada waktunya.

Kami saling menyemangati. Seringkali saya mendengar ucapan miring dari teman-teman tentang fisiknya. Orang-orang yang menyepelekannya. Saya yakin dibalik kelemahannya ia memiliki kelebihan.

Inilah obrolan terakhir kami dan sejak saat itu kami seperti lost contact. Namanya tak pernah lagi online dan sebelum obrolan ini kami pernah bertemu lagi sekali tapi saat itu kami tak sempat ngobrol banyak. Akibatnya saya sempat lupa jika saya memiliki teman sebaik dia dan ketika saya teringat dia,  kedua nomor hp nya tak pernah lagi aktif. Jujur saja saya merasa kehilangan karena sudah lama sekali kami tak berhubungan.

28 Oktober 2010 tepat di hari ulang tahunnya. Saya buka halaman fb nya dan mengucapkan ucapan selamat ulang tahun tapi alangkah terkejutnya ketika saya mendapati kabar bahwa teman terbaik saya ini telah lebih dulu dipanggil Allah pada tanggal 8 Juni 2010. Awalnya saya tak percaya dan berpikir ini semua hanya lelucon tapi di sana saya menemukan banyak sekali ucapan bela sungkawa dari teman-temannya. Kepergiannya terasa sangat mendadak dan saya tak tahu apa penyebab kematiannya😥

Kini tak ada lagi Pangeran Curhat yang rela menyediakan ruang dengarnya untuk mendengarkan curhat dari teman-temannya. Tak ada lagi Pangeran Curhat yang sudi berbagi keluh kesahnya. Kini tinggallah sebuah nama. Selamat jalan Razky Winanda Lubis. Tidurlah yang tenang di sisi Nya. Maafkan atas segala kesalahan yang pernah saya perbuat. Senang bisa mengenal sosok seperti mu.

See you in heaven😥