Dua kepala, dua karakter, dua perbedaan namun satu visi dan misi menyatukan cinta di keduanya. Berjalan bersama beriringan menciptakan sebuah melodi kehidupan yang indah. Namun di pertengahan jalan mereka tersandung kerikil-kerikil cobaan. Hadir untuk menguji kesabaran mereka. Memberikan ujian kehidupan berbentuk masalah.

Semakin mereka berjalan jauh, maka ujian yang mereka temui semakin rumit, setahap demi setahap terus tinggi tingkat kesulitannya.

Kerikil cobaan itu semakin besar dan menguras tenaga dan air mata tetapi dua anak manusia yang saling mencintai itu terus melangkah maju dan konsisten pada langkah mereka. Keduanya saling menguatkan, saling menyemangati walau kadang air mata menghiasi pipi sang gadis. Sang lelaki layaknya pemimpin menggengam erat tangan sang gadis berjalan optimis menuju kata pernikahan yang telah lama mereka rencanakan. Sang lelaki tak pernah putus asa, semakin kuat cobaan yang mereka hadapi maka semakin kuat pula keyakinannya. Ia tak pernah menyalahkan sang pemilik cinta karena baginya kerikil cobaan ini juga bentuk kasih sayang Nya pada cinta mereka.

Di sepanjang jalan mereka bercengkrama, tertawa dan sambil bergurau dan ada kalanya mereka murung dan bersedih bahkan bertengkar tapi langkah mereka terus maju tak pernah sedikit pun terhenti ataupun terpikirkan di benak mereka untuk istirahat sejenak.

Di perjalanan pun mereka juga pernah menemukan godaan dan rayuan manis dari orang-orang yang tak sengaja berpapasan. Menawarkan segala keindahan dan kenikmatan dengan iming-iming yang sangat menggiurkan. Ada yang mencoba menyelusup diantara mereka bahkan ada pula yang mencoba meleraikan genggaman tangan mereka. Merebut salah satu di antara keduanya.

Syukurlah keduanya masih kukuh dan memegang teguh komitmen mereka. Tak sedikit pun cinta mereka pudar. Hati mereka masih tetap menyanyangi. Genggaman mereka semakin erat dan cinta mereka semakin tumbuh subur di hati masing-masing.

Inilah ujiannya. Allah terus menguji mereka, apakah mereka bisa kuat melewati kerikil itu atau memutuskan menyerah di pertengahan jalan. Bukan karena Allah tak merestui mereka tetapi mereka yakin ini semua karena Allah sangat menyanyangi mereka. Allah perhatian hingga memberikan mereka kerikil cobaan agar mereka menjadi insan yang kuat dan tidak gampang menyerah, karena cinta, cobaan, tawa dan air mata adalah satu kesatuan.