Persoalan dalam hidup ini tak akan pernah habisnya, yang satu selesai maka akan timbul persoalan baru lainnya. Seolah-olah persoalan itu sedang antri untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Lepas masalah dengan keluarga maka akan timbul masalah dengan pasangan. Setelah masalah ini beres akan timbul lagi masalah dengan pekerjaan. Selanjutnya terus masalah ini selalu menemani hidup kita silih berganti hingga kita meninggal dunia, barulah kita bebas dari segala permasalahan dunia dan tinggal pertanggung jawaban kita di hadapan Nya 😐

Salah satu persoalan yang biasa kita hadapai adalah masalah keuangan. Jaman sekarang dimana biaya hidup sangat tinggi, biaya sembako selalu naik turun, biaya TDL listrik yang juga ikutan naik, biaya kesehatan, pendidikan dan juga biaya tempat tinggal (rumah) juga naik (bagi yang masih ngontrak). Semuanya butuh duit atau uang alias money a.k.a fulus. Hal yang terkecil pun seperti menggunakan toilet umum harus bayar. Hendak parkir juga harus bayar retribusinya Mau menggunakan air untuk MCK pun juga harus bayar (kecuali bagi yang mandi di sungai)

Besarnya biaya hidup apalagi bagi yang telah berumah tangga dan memiliki buah hati maka biaya-biaya ini akan meningkat. Seorang wanita yang sedang hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup agar calon bayi dalam kandungannya bisa lahir sehat. Setelah lahir maka akan ada biaya susu untuk bayi, pakaiannya, mainannya dan setelah ia memasuki umur sekolah maka ia harus mendapatkan pendidikan. Tentunya setiap orang tua menginginkan anak-anaknya mendapat pendidikan yang tinggi, makanan yang bergizi, pakaian yang bagus. Pokoknya si anak mendapat kehidupan yang layak. Sehat lahir dan bathin.

Untuk mengantisipasi permasalah ini maka tak salah sejak jauh hari saya telah merancang kehidupan saya kelak bersama calon suami saya dan juga merancang kehidupan calon buah hati saya. Mungkin langkah saya ini dibilang terlalu cepat apalagi saat ini saya belum menikah tapi salahkah saya jika saya meminta kepada Panda saya untuk ikutan menyukseskan rencana saya ini  Meminta kepadanya untuk hidup hemat dan mulai melatih diri untuk menabung demi sebuah cita-cita.

Saya sangat mengerti gaji yang ia terima sudah cukup untuk membiayai kehidupannya sendiri apalagi hidup di kota besar yang katanya biaya hidupnya pun turut besar. Di lain sisi saya menginginkan ia memikirkan masa depan kami. Menyisihkan sedikit uangnya. Saya ingin ia menabung demi calon si buah hati. Tak perlu ia memikirkan segala perlengkapan kosmetik, aksesoris dan pakaian saya. Biarlah semua itu saya beli dari uang saya sendiri. Saya ingin ia bersama saya turut memikirkan kehidupan finansial untuk calon si buah hati bersama-sama.

Saya mau dari hasil kerja kerasnya ada bukti yang bisa dirasakan kelak di kemudian hari. Tidak dengan cara habis tak menentu entah kemana mengalirnya. Saya tak ingin dia menyesal di kemudian hari. Sebagai seorang karyawan swasta tidak seumur hidup tenaganya digunakan oleh perusahaan. Suatu hari nanti ia akan mengalami masa pensiun, keluar dari perusahaan yang telah mengaji dia selama ini.

Prinsip saya adalah masa muda untuk bekerja, berkarya dan masa tua untuk menikmati hasil dari kerja keras selama masa muda.

Kami bukannlah berasal dari keluarga kaya raya yang bisa hidup poya-poya menikmati kekayaan orang tua hingga tujuh keturunan. Main tunjuk sana sini, main gesek kartu kredit. Menghilangkan jenuh dengan cara shoping gila gilaan. Tak perlu kawatir esok hari masih bisa makan enak bahkan dengan menu termahal sekalipun.

Kami juga tak punya pohon duit yang bisa dipetik lembarannya setiap waktu sesuka hati. Tak perlu resah jika satu pohon layu masih ada pohon duit lainnya. Kami hanya masyarakat biasa dimana jika hendak menginginkan sesuatu butuh kerja keras. Harus ada yang kami korbankan agar tujuan itu tercapai 😕

Menghadapi persoalan ini saya sering sekali merasa jengkel dengan sikap si Panda. Susah sekali membujuknya untuk menabung. Memberikan pengertian kepadanya bahwa hidup tak hanya hari ini. Ada hari esok dimana kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Membuka pikirannya untuk bisa berpikir panjang. Mengatur sebaik mungkin cash flow nya. Antara uang masuk dan keluar semuanya terkontrol dengan baik. Seandainya ia jatuh maka masih ada uang yang bisa kami gunakan untuk bangkit berusaha.

Bukannya saya ingin mengatur dia tapi saya mau dia bijak menggunakan uangnya. Itu saja. Dibalik gaji yang ia terima setiap bulannya terdapat hak saya dan calon si buah hati. Adalah kewajiban seorang suami untuk menafkahi anak istrinya, maka sudah sepantasnya saya memintanya untuk mulai belajar untuk itu. Dimulai dengan cara menabung. Jika dia bahagia maka saya pun juga bahagia.

: ! :