Bukannya saya belagu atau berlebihan tapi beneran asap rokok ini lama-lama bisa membunuhku. Setiap hari saya kerja selama kurang lebih 8 jam dan ditambah lembur menjadi 12 jam berkutat di ruangan yang kebanyakan penghuninya adalah lelaki perokok. Tak tanggung rokok yang mereka hisap bukannya sebatang tapi mereka ini sanggup menghabiskan sebungkus rokok bahkan lebih selama jam kerja. Apalagi semenjak ac di ruangan ini rusak maka lelaki-lelaki ini merdeka merokok seenak muncung mereka. Mengepulkan asapnya sesuka hati. Sudah tak peduli lagi dengan penghuni lainnya di ruangan ini yang tidak merokok. Mungkin di benak mereka pikir masa bodoh dengan orang-orang di sekitar yang penting hatinya senang menikmati batangan rokok itu.

Saya memang tidak suka asap rokok dan baunya kadang bikin sakit kepala. Seringkali saya merasa pusing, mata pedih dan seluruh baju dan rambut pun berganti dari aroma parfum menjadi aroma tembakau. Tuh nyebelin banget kan…. kemana aroma parfum saya 😦

Semua orang tahu bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin tapi setiap tahunnya jumlah perokok terutama di negara kita semakin bertambah. Mereka jelas-jelas tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan bahkan disebutkan bahwa rokok sebagai penyebab kematian tertinggi dibandingkan penyakit lainnya.

Mungkin efeknya pada kesehatan belum dirasakan saat ini tapi dalam jangka pendek efek kanker (kantong kering) sangat dirasakan. Mari kita hitung-hitung, harga rokok sebungkusnya setiap waktu selalu naik. Bahkan ada yang sudah mencapai Rp. 11.000 per bungkus dengan isi 16 batang. Anggap saja satu hari menghabiskan 1 bungkus dan dikalikan selama 1 bulan menjadi Rp. 330.000. Ini perkiraan satu bungkus per hari dan bagaimana jika ada yang menghabiskan lebih dari sebungkus pastinya jumlah pengeluarannya akan bertambah.

Bagi saya daripada menghabiskan Rp. 330.000 per bulan untuk menghisap rokok mendingan uangnya dialokasikan untuk makan atau digunakan pada hal yang lebih bermanfaat lainnya. Mana gaji yang diterima per bulannya kecil, eh malah dihabiskan untuk beli rokok. Belum lagi untuk biaya lainnya seperti makan (kebutuhan sehari-hari), biaya listrik dan air per bulan, sewa rumah (bagi yang belum punya rumah sendiri), biaya sekolah anak dan biaya-biaya lainnya. Otomatis semakin kankerlah itu kantong 😀

Kebiasaan merokok memang tidak mudah untuk dihentikan, sampai keluar fatwa haramnya pun tetap saja angka perokok semakin bertambah. Bahkan di kalangan ABG seperti ada aturan ngak merokok berarti ngak gaul, ngak asyik, ngak kompak sama teman-temannya 😕

Tak salah jika angka perokok di Indonesia cukup besar. Hampir setiap lelaki yang saya jumpai rata-rata perokok dan juga terdapat sekian persen jumlah perokok perempuan.

Permasalahan rokok di Indonesia seperti dilema, satu sisi ia tak baik buat kesehatan tapi di sisi lainnya rokok adalah penyumbang pajak dan cukai yang cukup besar dan juga lahan pekerjaan bagi masyarakat kita. Ada petani kebun tembakau, ada buruh pabrik rokok, dan juga ada pajak dan cukai yang besar yang diperoleh negara. Serba salah memang 😕

Kalo menurut saya, terserah anda mau merokok atau tidak toh kesehatan kita sendiri yang punya dan bukan orang lain yang ngurus. Kesehatan ya jaga masing-masing. Bagi anda yang suka merokok ya silahkan merokok tapi lihat tempat dong. Tidak semua orang di sekitar anda menikmati asap rokok anda. Kami merasa sangat sangat dan sangat risih dengan kepulan asap itu. Sudah bikin polusi udara, sesak nafas, bikin kepala saya pusing, mata pedih dan juga rambut dan pakaian menjadi bau :mrgreen:

Seandainya saya bisa menghindar dari asap mematikan ini selama jam kerja pasti saya tidak akan uring-uringan seperti ini. Untunglah Pandaku ngak suka merokok dan tubuhnya bebas dari aroma parfum tembakau 😉