Manusia dilahirkan dengan segala kekurangan dan kelebihannya serta dengan segala keberagamannya. Ada yang berkulit hitam dan tentu ada yang berkulit putih, ada kaya dan juga ada yang miskin. Manusia memiliki sisi hitam dan juga sisi putih. Tak ada manusia sempurna karena kesempurnaan hanya milik Nya. Hanya satu yang pasti bahwa manusia dilahirkan pada salah satu gender yaitu lelaki atau perempuan. Tidak ada manusia setengah laki dan juga setengah perempuan. Allah tidak mungkin plin plan menciptakan mahkluk ciptaan Nya. Semua sudah memiliki satu jenis kelamin yang pasti.

Pada kenyataannya di lingkungan sekitar kita malah timbul suatu Β perbedaan yaitu seorang perempuan yang berjiwa lelaki dan juga ada seorang lelaki yang bersifat feminim. Ada beberapa orang perempuan walaupun sifatnya tomboy tapi ia tetap masih menyukai mahkluk lelaki. Penampilannya dan hobbynya memang laki banget tapi hatinya tetap feminim. Nah, anehnya ada juga seorang perempuan yang secara fisiknya perempuan tapi hatinya tidak menyukai mahkluk jenis lelaki. Biasa disebut dengan kaum lesbian.

Lesbian adalah seorang perempuan yang memiliki orientasi seksual pada sesama perempuan juga. Mereka juga memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Mereka memiliki hati, kepekaan terhadap lingkungan dan mereka juga memiliki hak yang sama seperti manusia lainnya. Tak melulu mereka bernampilan laki tapi ada juga yang berpenampilan layaknya perempuan normal lainnya.

Saya sendiri juga punya teman seorang lesbian. Namanya Cella dan di lingkungan teman-temannya ia menjadi seorang Alex. Ia juga salah satu teman kos saya dulu selain Icha. Penampilannya memang laki banget. Selalu mengenakan baju kaos yang ditutupi jaket serta Β bercelana pendek sambil membawa tas selempangnya. Awalnya saya tidak pernah menduga ia seperti ini. Ia baik sekali kepada saya, sering membawakan saya makanan buatan KFC (Kentucky Fried Chicken) karena ia bekerja di sini πŸ˜€Β Kami seringkali ngobrol, ngumpul bareng sambil bercanda bersama teman-teman yang lainnya.

Pada awalnya saya sempat bertanya dalam hati, teman saya yang satu ini laki atau perempuan. Dilihat dari penampilannya seperti laki-laki tapi dari suaranya seperti perempuan kemudian teman-teman menceritakan kepada saya siapakah Cella sebenarnya. Semakin saya tahu maka saya semakin penasaran dengan sosok seorang Cella. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di pikiran saya.

Pada suatu sore saya ngobrol dengan dia di kamarnya, awalnya hanya obrolan ringan dan kemudian berujung pada curhat. Cella menceritakan bagaimana keluarganya, masa kecilnya hingga dia beranjak dewasa. Dia menceritakan keseluruhan pengalaman hidupnya kepada saya. Di situlah saya baru tahu penyebab ia menjadi seorang lesbian.

Ia berasal dari keluarga broken home dan ketika masih berumur 7 tahun ia terpisah dari keluarganya dan ia dititipkan di sebuah rumah kontrakan dengan uang yang dikirimkan oleh ibunya setiap bulan. Sedangkan ibunya pergi ke kota lain untuk bekerja.Β Cella tidak pernah duduk di bangku sekolah tapi itu tidak menjadi penghalang baginya untuk maju.

Saya sangat terharu mendengar kisah hidupnya. Ia seseorang yang mandiri, tidak mudah menyerah dan menjadi tulang punggung keluarganya. Dia bekerja keras mengabdikan dirinya untuk kebahagiaan keluarganya. Β Ada banyak faktor penyebab mengapa seseorang akhirnya menjadi seorang lesbian tapi sayangnya di sini saya tidak bisa menuliskan keseluruhan kehidupan Cella demi privacy dia. Saya tetap menjaga perasaannya. Sekali lagi maaf πŸ™‚

Keluarga dan teman-temannya telah mengetahui siapa dia sebenarnya. Kami semua menerima dia dan tak pernah mengucilkan dia apalagi sampai menjauhinya. Ia sama seperti kita dan tak ada yang perlu ditakuti bergaul dengan orang-orang seperti ini karena memang teman saya yang seperti Cella tidak hanya dia dan masih ada dua orang lainnya.Β Mengenai pandangan bahwa lesbi itu menular, saya kurang tahu pasti dan yang hanya saya tahu bahwa saya berteman dengan mereka dan alhamdulillah saya masih termasuk heteroseksual (Ya iyalah mana mungkin saya cinta mati dan bela-belain Si Panda mati matian) πŸ˜€

Kepada Cella, saya tak berani mengaturnya dan sok menasehati dia karena menurut saya ini persoalan sensitif. Biarlah dia menjalani kehidupannya. Semoga ia pun bisa berubah sama halnya dengan harapan saya pada Icha. Semoga Allah membukakan pintu hatinya.

Jangan pandang mereka dengan sebelah mata apalagi sampai menjauhi mereka karena mereka juga mahkluk sosial yang tak ada bedanya dengan kita. Allah pun juga memandang semua mahkluk ciptaan Nya sama, masa kita yang ngak ada apa-apanya di mata Nya malah mengucilkan sesama mahkluk ciptaan Nya. Alangkah sombongnya manusia.