Saya pernah mengenal seorang perempuan yang kehidupannya sangat bebas. Ia adalah teman saya ketika dulu satu kossan tapi kita beda kamar. Kata lainnya adalah tetangga kos saya. Namanya Icha a.k.a Vivi a.k.a Vera. Ya dia emang punya banyak nama samaran dan pada suatu lingkungan ia bisa punya nama yang berbeda. Apapun itu namanya ia adalah satu orang yang sama. Kepada saya ia memperkenalkan dirinya sebagai Icha.

Ia seorang perempuan berumur 23 tahun, usianya memang lebih muda dari saya tetapi ia lengket sekali dengan saya. Ia mengakui bahwa dengan saya ia merasa cocok walaupun cara pandang kami terkadang sering berbeda, kami tidak sejalan dan sepemikiran tetapi perbedaan itu tidak mempengaruhi hubungan kami. Kami tetap bisa berteman baik.

Ia adalah perempuan keturunan Lampung dan Banten. Kedua orang tuanya kini berada di lampung tepatnya di kota Natar.  Ia memilih hidup merantau jauh dari keluarganya pergi ke Cilegon. Meskipun di kota ini ia masih memiliki keluarganya tapi ia tak ingin bergantung hidup pada orang lain. Ia lebih memilih hidup di kossan kecil di lingkungan kumuh dengan uang pas-pasan.

Ia adalah anak yang supel, mudah sekali akrab dengan orang lain hingga tak salah sebentar saja ia sudah memiliki banyak teman di kota ini. Banyak orang menyukainya dan ingin menjadi teman dekatnya. Ia memang tak cantik dan juga tak manis tapi ia pandai bicara. Itulah kelebihannya. Secara fisik dan pendidikan pun jika dibandingkan dengan saya, pasti lebih oke saya lah *tetap pede*😉 saya jauh lebih beruntung dari dia.

Ia hanya perempuan lulusan SMP dan berasal dari keluarga baik-baik. Orang tuanya adalah orang yang cukup disegani di kampungnya. Bapaknya orang yang sangat taat beragama. Di kota perantauan ia berniat mencari pekerjaan agar bisa membuktikan kepada orang tua dan seluruh keluarganya bahwa ia bisa hidup mandiri tapi sayangnya ia salah langkah. Ia telah terjerumus pada pergaulan negatif. Ia telah mengenal rokok, minuman keras, dan narkoba mungkin juga sex bebas. Hampir setiap malam ia pergi keluar, ngumpul bareng teman-temannya, dugem dan pulang subuh bahkan tengah hari baru menginjakkan kaki di kamarnya.

Tentu keluarganya tidak pernah tahu kebiasaan buruknya ini dan mengira anaknya baik-baik saja. Saya sendiri tak habis pikir sampai kapan ia hidup seperti ini. Berpindah tangan dari satu cowok ke cowok yang lain. Setelah usai menguras uang si A maka ia akan berpindah ke dompet si B. Terus terusan begini setiap harinya.

Rokok dan minuman tak pernah absen dari dirinya. Saya sendiri sangat merasa terganggu dengan asap rokoknya dan setiap kali ia menghisap batangan rokok itu maka saya mencoba untuk menjaga jarak dari dia. Merokok tak baik buat kesehatan terutama pada perokok pasif seperti saya. Teman-teman telah banyak meminta dia untuk menghentikan kebiasaan buruknya ini (rokok dan minuman) tapi itu cukup sulit, telah banyak kata yang terurai tapi jika tidak ada niat untuk berubah dari hati maka percuma saja usaha kami.

Ingin sekali saya melihat ia bisa berubah, mendirikan shalat dan meminta ampunan kepada Nya. Menjauhkan barang-barang haram itu dan meninggalkan kelakuan buruknya. Ia menyadari dosanya tapi sayangnya perubahan butuh proses dan memerlukan waktu.

Saya seringkali mengajak ia untuk mencari pekerjaan yang baik, hidup seperti orang lain. Kerja pagi dan ketika malam tiba maka waktunya untuk tidur, bukannya keluyuran tengah malam. Hidup jauh dari rokok dan minuman keras, tapi sepertinya itu tak mudah. Ia sendiri ingin sekali bisa bekerja yang halal tapi semua perlu usaha, tak semudah bicara. Ia hanya lulusan SMP dan ijazah pun tertinggal di kampungnya. Pergi ke kota ini ia tak membawa selembar ijazah. how poor you are😦

Saya pernah beberapa kali menemani ia mencari pekerjaan, setiap kali ada lowongan pasti kami segera meluncur ke TKP. Di mall, toko dan juga rumah makan tapi lagi-lagi sayangnya ia tidak memenuhi kualifikasi yang diharapkan. Selalu kendalanya ada pada ijazah. Sesulit itukah mencari pekerjaan di kota besar. Semangatnya untuk bekerja sangat tinggi, tapi kenapa para pemilik lapangan usaha itu menilai orang hanya dari ijazahnya dan bukan pada semangatnya. Toh yang bekerja adalah orangnya dan bukan selembar ijazah itu.

Di bulan Januari lalu saya terpaksa pulang ke Jambi dan meninggalkan teman-teman saya di sana termasuk Icha. Dengan berat hati saya harus meninggalkan dia. Seorang teman yang sangat dekat dengan saya. Saya yang selalu menjadi tempat curhatnya, merelakan telinga saya mendengarkan segala pengalaman sehari-harinya, cerita hidupnya. Sayalah tempat pembuangan unek uneknya. Saya harus pulang dan meninggalkan dia yang belum ada perkembangan perubahan sama sekali.

Terakhir kali saya sms dia dan ia bilang hidupnya masih seperti dulu. ouw… saya sedih sekali mendengar ia masih saja seperti itu. Saya tak bisa memaksa dia, itu adalah pilihannya. Saya harap suatu hari nanti ia mau benar-benar berubah karena saya tahu ia adalah anak baik-baik. Banyak sekali orang yang menyayanginya.

Berubahlah Icha demi orang tuamu