Pada Selasa pagi tanggal 23 Maret 2010 jam 05:45 telah lahir seorang bayi laki-laki dengan berat badan 3,3 kg dan panjang 49 cm. Bersyukur si bayi lahir sehat dan normal setelah 9 bulan berada di kandungan sang ibu. Setelah semalaman sang ibu berjuang menahan rasa sakit, menangis karena rasanya yang katanya teramat sangat dan kini segala rasa sakit itu terbayarlah sudah. Sang bayi kini telah lahir.

Semua bersuka cita menyambut kehadiran sang bayi apalagi ia adalah keturunan laki-laki pertama di keluarga saya. Ternyata Allah memberikan sang jagoan munggil setelah 3 tahun pernikahan adik saya. Sebagai tantenya saya pun tak kalah bahagianya. Ini seperti mimpi. Saya punya keponakan 😀 Kok bisa di dalam perut bisa hidup seorang bayi. 9 bulan dikandung, makan dan minum dari ibunya. Mengerti jika ibunya sedang marah maka ia pun akan bereaksi 😕

Dulu kami saling menebak kira-kira si kecil akan lebih mirip siapa, papanya atau mamanya. Dan kini tebakan itu telah terjawab. Si kecil lebih mirip mamanya, hidungnya seperti adik bungsu saya dan kulitnya sawo matang seperti kedua orang tuanya. Setiap harinya wajah sang bayi terus berubah menjadi lebih ganteng dan semakin menggemaskan.

My Lovely Nephew

My Lovely Nephew

Sebelumnya 2 bulan menjelang kelahiran kami telah mencari ide nama bayi. Mencari di internet, membuka buku kumpulan nama bayi dan juga meminta saran orang-orang sekitar. Saya pun juga pernah meminta saran dari teman-teman. Saya mengucapkan terima kasih atas segala masukannya. Nama yang diusulkan bagus semua hingga membuat kami binggung memilih mana yang tepat. Setelah beberapa pertimbangan akhirnya terpilihlah nama yang cocok untuk si kecil yaitu “Rangga Adhitama Prasetyo”.

Kata Rangga sendiri dalam bahasa Jawa berarti pegawai kerajaan atau gelar bangsawan. Sedangkan Adhitama berarti tampan, indah dan memiliki keutamaan serta yang terakhir Prasetyo artinya setia. Sehingga kesimpulannya Rangga Adhitama Prasetyo memiliki arti seorang pegawai kerajaan / bangsawan yang tampan dan setia. Diharapkan semoga kelak ia bisa menjadi apa yang diharapkan pada namanya. Menjadi seseorang yang berarti di negeri ini yang tak hanya tampan tapi juga bisa menjaga kesetiaan. amin……

Saya sebagai tantenya menyayangi dia seperti anak saya sendiri walaupun saya belum pernah merasakan punya anak tapi saya bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Memiliki bayi yang lahir dari rahim dan juga darah daging sendiri. Apalagi Pada malam sebelum lahir saya menemani adik saya di rumah sakit bersalin yang sedang merintih menahan sakit karena si jabang bayi sudah saatnya hendak lahir ke dunia. Pada saat itu saya pun merasa sedih dan juga terharu. Sebegitu beratkah perjuangan seorang ibu berjuang melahirkan anaknya. Adik saya sendiri mengatakan seolah-olah nyawa ini seperti akan dicabut. Benarkah begitu???? makanya seringkali orang mengatakan bahwa perjuangan melahirkan seperti perjuangan antara hidup dan mati :mrgreen:

Dapat dirasakan betapa sedihnya hati seorang ibu jika anak yang ia kandung selama 9 bulan, dibesarkan dengan kasih sayang dan setelah besar  malah melawan orang tuanya. Menyakiti hati ibunya, membuat sang ibu bersedih. Saya tak bisa membayangkan betapa tega sang anak bersikap seperti itu. Makanya tak salah jika surga ada di telapak kaki ibu.

Berbahagialah jika kamu masih memiliki ibu di sampingmu, sayangilah mereka. Tidak mungkin seorang ibu membenci darah dagingnya sendiri karena kasih ibu sepanjang jalan.

Terkadang saya tak habis pikir kok bisa ada seorang ibu yang tega membuang anak kandungnya sendiri. Bahkan yang sering kita temukan ibu yang menelantarkan anaknya di jalanan. Menyuruhnya meminta-meminta mengharap belas kasihan orang lain di bawah terik matahari. Saya sering kali sedih melihatnya.

Ada juga anak-anak tak berdosa itu dipaksa bekerja, mengamen di jalanan. Saya melihat sudah tak ada lagi keceriaan di mata mereka. Sepertinya umur sekecil itu mereka telah memiliki beban untuk mencari uang membantu perekonomian keluarganya. Sungguh keterlaluan. Di mana hati ayah dan ibunya. Saya sering kali tak tega melihatnya 😥

Anak-anak itu tak berdosa dan jika bisa memilih pasti mereka memilih untuk tidak dilahirkan. Makanya untuk para orang tua jika merasa tidak mampu untuk membesarkan anak, ngak usah punya anak. Ikutan keluarga berencana dong. Orang tua yang punya gawe malah anak yang dibebani.

Ada lagi yang tak kalah kejamnya, bayi yang tak berdosa di dalam kandungan malah digugurkan 👿 Aduh…. dosa mah jangan ditambah, yang lama aja sudah banyak ini malah bikin dosa baru. Lagi-lagi saya katakan kalo ngak mau bertanggung jawab ya ngak usah berbuat. Anak-anak kecil dan bayi-bayi munggil ini tak tahu apa-apa, mereka tak berdosa justru orang tuanyalah yang salah. Berani berbuat maka berani bertanggung jawab.

Ah, ya sudahlah itu urusan mereka-mereka yang berbuat dan ngak ada hubungannya juga sama saya 😛

********

Belum ada sebulan, saya sudah tak sabar menunggu si Rangga besar. Melihat dia belajar ngomong, belajar berjalan dan melakukan aksinya. Membayangkan dia masuk sekolah dengan seragam merah putihnya, bermain dengan teman-temannya, terus ketika ia pertama kali jatuh cinta pada mahkluk perempuan hingga ia memilih pasangan hidupnya. Kira-kira siapakah jodonya kelak. upsss…. terlalu dini jika saya memikirkan itu 😳

Keponakanku yang tersayang, terganteng, dan terimut Rangga, cepat besar ya sayang…… Semoga menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada kedua orang tua. Menjadi anak yang pintar dan memiliki budi pekerti yang baik. Kalo ada yang berani ganggu kamu bilang aja sama tantemu ini siapa orangnya biar tante kasih pelajaran membaca dan menulis 😀

Welcome to the world…….

Iklan