Sudah 2 minggu terakhir ini koran harian di Kota Jambi selalu dihiasi berita keganasan harimau sumatera. Tahun kemarin kurang lebih 11 orang menjadi korban amukan harimau dan tahun ini kembali harimau sumatera mengamuk. Saat ini telah ada 11 orang korban meninggal dan 12 orang lainnya mengalami luka-luka. Seperti diberitakan bahwa seorang warga ditemukan tewas bersimbah darah setelah lehernya patah digigit seekor harimau. Pada tubuh korban ditemukan kepala belakang korban robek, lengan kanan patah dan juga ada lima bekas gigitan harimau di punggungnya.

Pada malam kejadian, koban bersama teman-temannya sedang tertidur di sebuah camp setinggi 1,5 meter di tengah hutan. Harimau itu menggigitnya dan menyeret tubuhnya hingga 15 meter. Teman-temannya sendiri berusaha menolong tapi sang harimau kelihatannya sangat lapar hingga nyawa korban tak bisa diselamatkan.

Selain itu harimau-harimau ini sering kali masuk pemukiman warga dan sejak seminggu terakhir ini telah memangsa 4 ekor sapi. Untuk mengantisipasi maka pihak Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) memasang perangkap pada kawasan yang banyak jejak harimau. Terkadang ditemukan Harimau ini hidup di Kawasan Taman Nasional Berbak dan juga masuk ke kawasan hutan produksi.

Adanya indikasi berkurangnya kawasan hutan lindung di Jambi hingga populasi harimau sumatera bergeser. Tak salah jika hewan ini masuk ke pemukiman warga dan banyak orang menjadi korbannya. Semua akibat ulah manusia sendiri, illegal logging dan hutan tempat mereka tinggal telah dirusak oleh manusia. Mereka tidak akan mengganggu jika habitatnya tidak diganggu.

Harimau Sumatera termasuk hewan yang dilindungi setelah Harimau Bali (Panthera tigris balica) dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) telah dinyatakan punah. Harimau Sumatera hanya di temukan di pulau Sumatera dan populasi ini diperkirakan hanya sekitar 400-500 ekor dan hidup di taman-taman nasional di sumatera dan ada 250 ekor yang hidup di kebun binatang di seluruh dunia. Ukuran harimau jantan rata-rata 300 pound dengan panjang 92 inci dan panjang harimau betina 78 inci dengan berat badan 200 pound. Harimau Sumatera merupakan subspesies harimau terkecil sehingga memudahkannya menjelajahi hutan rimba.

Kucing besar ini memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang tajam maka tak salah jika mereka mengintai mangsanya di malam hari dan menyerang dari belakang atau samping. Meraka termasuk hewan pemakan daging. Mereka pandai berenang dan memanjat pohon. Harimau ini mampu hidup selama 15 tahun di alam liar dan 20 tahun di dalam kurungan.

Harimau Sumatera termasuk hewan dengan status kritis. Hewan ini memiliki resiko besar akan menjadi punah. Ini berarti jumlah habitat mereka telah berkurang di habitat alami mereka. Selain Harimau ini ada beberapa hewan lainnya yang dinyatakan masuk dalam status kritis seperti :

  • Orangutan Sumatra (Pongo abelli)
  • Kelelawar Malayan Roundleaf (Hipposideros nequam)
  • Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae)
  • Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)
  • Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis)
  • Unta Bactrian (Camelus bactrianus)
  • Sumatran Water Shrew (Chimarrogale sumatrana)
  • Sumatran Ground Cuckoo (Carpococcyx viridis)
  • Javanese Lapwing (Vanellus macropterus)
  • Burung kacamata Sangihe (Zosterops nehrkorni)

Saat ini perdagangan harimau semakin marak dilakukan, bagian tubuhnya dijual seperti kulit, kumis, cakar ataupun secara utuh. Kita berharap agar pemerintah mengambil langkah tegas untuk menghukum pelaku, baik pelaku perdagangan maupun pelaku illegal logging karena kedua perbuatan ini sama-sama perbuatan kriminal dan telah mengganggu ekosistem mahkluk hidup.

**********

Referensi : berbagai sumber