Dam Semagi merupakan salah satu wisata alam yang ada di Jambi tepatnya terletak di Kecamatan Tanah Tumbuh berjarak sekitar  41  km dari kabupaten Bungo. Dam ini merupakan bangunan air yang dibangun pada masa kolonial Belanda pada tahun 1937 dan hingga sekarang masih berfungsi.

Pada hari libur tempat ini ramai dikunjungi oleh anak-anak, orang tua maupun remaja. Duduk di atas batu besar sambil merasakan air dingin yang mengenangi kaki.

********

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya di awal tahun 2005 silam tepatnya tanggal 9 Januari 2005 ketika saya masih duduk di bangku kuliah liburan ke Dam Semagi. Pada hari itu saya bersama teman-teman (dah lupa berapa banyak jumlahnya) satu posko kukerta pergi jalan jalan ke sana dengan niat untuk Free Tour. Niat kami hanya untuk refreshing setelah sebulan lebih terkurung di desa terpencil jauh dari segala fasilitas dan sinyal hp. Direncanakan minggu depannya masa kukerta kami akan habis dan kami bisa kembali ke kota rumah masing-masing.

Dimulai dari pagi-pagi buta kami merencanakan liburan kami diam diam tanpa harus diketahui oleh penduduk desa karna acara ini members only. Dengan menumpangi bis, rombongan kami terbagi 2 tim agar tidak terlalu mencolok dan pada satu tempat kami akan bertemu kembali.

Pada saat itu emang lagi musim hujan jadi tentunya air sedang pasang. Sebelumnya kami singgah di rumah salah satu teman untuk numpang makan (mumpung gratis, uang saku semakin menipis tinggal recehan dan beberapa lembar uang ribuan di dompet) dan ibu dari teman saya ini menasehati kami agar tidak turun ke air karna ia tahu beberapa orang dari kami tidak bisa berenang termasuk saya.

Sesampainya di sana kami seperti anak ayam yang lepas dari kandang, kegirangan dan lupa pada bekal nasehat yang telah diberikan. Dimulai dari pintu masuk kami tak hentinya foto bareng. Bermain air sesuka hati, tertawa lepas dan lupa umur bahwa kami sudah tidak kanak kanak lagi.

Kami sengaja mencari tempat yang sunyi dan jauh dari kumpulan orang. Tiba tiba suatu kejadian yang mengerikan terjadi, saya bersama dua orang teman saya tenggelam dan hanyut dibawa arus. Saya dan Oethil yang sama-sama tidak bisa berenang tapi sok main ke tengah air. Ketika sedang bencanda gurau, sekejap saja saya merasa ada dorongan air yang sangat kuat mendorong kami dari arah belakang, sontak teman saya Anil langsung menghampiri dan berniat menolong kami berdua setelah sebelumnya ia menolong Bang Eqi yang juga tak bisa berenang.

Kami bertiga tak kuasa menahan dorongan air yang semakin kencang, berputar, menghilang tenggelam dan kemudian timbul lagi. Ekspresi wajah kami masih tersenyum tapi di hati masing masing kami merasa takut dan was was sampai kapan permainan ini selesai. Saya tak bisa menginjak ke dasar air untuk bertahan. Saya terus mencoba menggapai bebatuan besar yang ada di sekitar saya tapi tetap saja tangan ini tak sampai.

Awalnya teman teman yang lain mengira bahwa kami hanya main main dan mereka baru menyadari ketika saya berteriak “tolong…. abang tolong…..” ketika itu teman teman baru ngeh bahwa kami tenggelam dan hanyut dibawa air.

Ketua posko kami Bang Ucok bersama teman yang lain menyelamatkan Anil dan membawanya ke daratan dan tinggallah saya dan Oethil yang masih mengapung dan sesekali hilang di air. Di depan sekitar 5 meter di hadapan kami adalah jurang terjal dan ada banyak batu besar di bawahnya. Saat itu yang ada dalam pikiran saya hanyalah Ibu  di rumah, saya minta maaf tak bisa menyelesaikan kuliah dengan baik karena skripsi saya pada saat itu belum rampung. Saya belum bisa mewujudkan harapan ibu. Saya merasa panik dan pasrah kepada Allah jika benar nyawa saya hanya sampai 5 meter di hadapan saya. Saya ikhlas dipanggil oleh Nya.

Tiba tiba kami tersangkut pada batu besar. Batu itu di tengah air dan kanan kiri kami air dengan arus yang sangat deras. Saya dan Oethil terus berpegangan sambil memeluk batu. Awalnya saya merasa lega ada kesempatan untuk kami bisa selamat. Selang beberapa detik kemudian air deras terus mendorong tubuh saya dari belakang. Saya merasa tak kuat bertahan dan merasa letih. Sontak kami berdua pun kembali berteriak minta tolong agar teman teman secepatnya menolong dan mengeluarkan kami dari air. Saya ikhlas dan pasrah jika harus terlepas dari batu ini.

Kemudian saya merasa seperti ada kekuatan yang merasuki tubuh saya, menolong saya untuk bisa bertahan di batu itu.

Selang beberapa menit kemudian barulah sang ketua posko menjemput kami berdua dari air setelah letih bertahan dimana proses evakuasi penyelamatan kami pun juga tak gampang, melawan arus. Dia memeluk kami dan membisikkan ” gak pa pa semuanya baik-baik saja”. Dia terus menyemangati kami untuk tidak boleh trauma pada air. Untungnya selama di air saya, Oethil dan Anil tetap berpelukan karna jika kami bercerai maka pasti ada satu diantara kami yang tak bisa diselamatkan 😦

Tak bisa saya bayangkan jika umur saya hanya sampai hari itu Minggu 9 Januari 2005 tentu saja takkan pernah tercipta blog ini, tulisan ini dan berbagai pengalaman baru yang saya peroleh, serta orang orang baru yang saya temui. Saya merasa bersyukur sampai hari ini saya masih bisa menikmati hidup dan diberikan oksigen untuk bernafas. Terima kasih atas kesempatan yang telah Allah berikan kepada saya.

Terima kasih, terima kasih Allah 🙂

Iklan