Tiga tahun yang lalu tepatnya 5 Juni 2006 jam 9 malam ibu pergi meninggalkan saya dan kedua adik saya untuk menghadap sang khalik. Ibu pergi tuk selamanya dengan senyum yang begitu indah yang terpancar dari wajahnya yang bercahaya. Tak pernah kulihat ibu seperti itu sebelumnya. Ia tampak ikhlas dengan kepergiannya dan meninggalkan sebuah senyuman yang teramat manis.

Penyakit itu terus mengerogoti tubuhnya dan membuatnya hari demi hari semakin lemah dan kurus tapi ibu tetap bersemangat dan tegar melawan sakit itu. saya masih ingat jika malam tiba ibu tidak bisa tidur dan hanya bisa duduk di samping tempat tidur sambil memandang ketiga anak gadisnya tertidur pulas. saat itu ibu sudah tidak bisa berbaring di atas tempat tidur, sehari-hari ia hanya duduk dan tidur pun di kursi. Masih teringat di ingatan saya betapa kuat keinginan ibu untuk sembuh kembali agar bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya.

My Lovely Mother

My Lovely Mother

Hari itu 21 Januari 2006 bertepatan dengan hari ulang tahun saya ke 23 ibu masuk rumah sakit karena sakit jantung, selama semingu ibu dirawat di sana dan setiap hari kami giliran menjaga dan menemaninya. Saya dapat giliran dari jam 9 malam sampai 3 sore. Dinginnya AC dan lantai rumah sakit harus saya lawan mengingat saya hanya tidur di lantai beralaskan tikar mungil dan setiap malamnya saya selalu terjaga sambil sesekali mengecek keadaan ibu. Kulihat ibu tidur pulas sekali. Saya bahagia malam itu ia bisa tidur nyenyak dan sejenak lupa dari sakitnya.

Saya menyesal di saat terakhir nafasnya saya tidak berada di sampingnya dan ketika saya sampai kutemukan ibu baru saja pergi 2 jam yang lalu. saya menyesali kenapa mobil yang kami tumpangi harus mengulur-ulur keberangkatan kami. Ibu menghembuskan nafas terakhirnya di kota Kuala Tungkal. Saat saya dan adik sampai di sana suasana rumah itu sangat beda, lain dari biasanya ada air mata dan wajah penuh duka. Kutanyakan apa yang telah terjadi, dimana ibu, kulihat keseluruh ruangan tapi tak kutemukan ibu diantara mereka. Nenek meminta kami agar sabar dan menerima kenyataan bahwa ibu tak ada lagi dan ia baru saja pergi. Sontak saya tak tahu apa yang harus saya lakukan dengan 2 orang adik saya yang belum siap akan kenyataan ini. Semuanya terasa campur aduk ada sedih, binggung, menyesal, takut, badan saya tiba-tiba menggigil dan saya tak tahu gimana kehidupan kami selanjutnya tanpa ibu di sisi kami, pikiran saya sangat kacau malam itu. Kami sampai di Kuala Tungkal jam 11 malam dan ibu pergi jam 9 malam. Segera jam 1 malam kami kembali ke Jambi dan sampai di rumah jam 3 pagi.

Sambil mencium kakinya yang telah memucat ku ucapan maaf ku. Ibu, maafkan segala kesalahan saya baik yang disengaja maupun tidak. Sesungguhnya saya tidak pernah sadar dan sengaja bermaksud menyakiti hatimu, selamat jalan ibu tidurlah dengan nyenyak. Allah menyayangi Ibu dan mengobatinya dengan cara ini dan ia takkan pernah merasakan sakit lagi. Berat sekali rasanya saat melepaskannya saat hendak dibawa ke dalam keranda mayat untuk dishalatkan ke mesjid. Itulah saat terkahir saya melihatnya terbujur kaku tak berdaya.

Hari itu banyak teman, tetangga dan kerabat datang ke rumah untuk melihat ibu yang terakhir kalinya. Banyak orang yang ikut menshalatkan jasadnya dan ratusan orang mengantar ke peristirahatan terakhirnya. Di situ saya baru sadar bahwa begitu banyak orang yang menyayanginya dan mereka tak percaya ibu pergi secepat ini karna yang mereka kenal ibu adalah sosok yang tegar walaupun sakit tapi ia tetap tampak kuat. Ia tidak pernah cengeng, tidak pernah ada kata menyerah dalam kamus hidupnya dan berpendirian. Selain itu ia sosok ibu gaul. Ia adalah ibu dan juga sahabat kami. Saya merasa beruntung memiliki seorang ibu seperti ibu. Saya bangga lahir dari rahimmu dan semoga kelak kita akan bertemu kembali di surga.

Kini tak ada lagi Ibu yang selalu meminta saya untuk mencabuti ubannya, tak ada lagi Ibu yang tidur di samping saya serta tak ada lagi Ibu yang menemani saya berbelanja. Ibu adalah motor penggerak kami karna ia adalah penyemangat kami untuk melakukan segala aktivitas dan kini saya harus menjadi motor penggerak bagi diri saya sendiri.

Dalam lamunan saya terkadang terbesit sebuah tanya kenapa ibu tidak pernah ngomong jika ia ingin pergi meninggalkan kami, pastinya jika saya tahu tentu saya akan berbuat apa saja untuk membahagiakannya karna ibu selalu bertanya kapan saya selesai kuliah dan tentu suatu kebanggaan orang tua bisa melihat gadis sulungnya ini wisuda. Dulu saya juga pernah bermimpi suatu hari saat wisuda tiba saya akan mengajak ibu dan adik-adik saya ke kampus Pinang Masak tempat sehari-harinya saya menghabiskan waktu pergi pagi pulang sore. Akan tetapi impian tak sejalan dengan kenyataan, Allah berkehendak lain karna kenyataan adalah yang terbaik menurut Allah. Allah memang bukan pesuruh yang harus memenuhi segala permintaan kita. Namun Allah berkehendak yang kadang sesuai kadang tidak sama dengan harapan kita.

I love u bunda