Assalamualaikum ibu,

Apa kabar, tak terasa ya sudah 4 tahun kita berpisah. Mengisi hari tanpa bersama lagi. Bagaimana tidurnya, nyenyak kah? semoga ibu bisa tidur nyenyak dalam kedamaian di sana. Mimpi indah setiap waktu.

Kabar kami di sini baik-baik saja. Adik-adik, ayah dan keluarga semua sehat wal afiat. Kami kangen banget sama ibu. Kangen melihat tawamu, senyumanmu dan juga segala kisah yang meluncur dari bibirmu.

Nasehatmu, masih saya ingat tentunya. Kakak adik harus tetap akur karena kami hanya tiga bersaudara. Sayang kepada ayah dan tidak boleh membencinya. Ya karena ayahlah satu satunya orang tua kami yang masih hidup setelah kepergianmu.

Merawat rumah karena di situlah tempat kami bertiga berteduh, sebuah rumah dengan segala kisahnya. Rumah itu salah satu saksi bisu kebersamaan kita dulu. Saya masih ingat sekali sepertinya setiap sudut rumah kita memiliki kenangannya masing-masing.

Banyak sekali barang-barang peninggalanmu salah satunya perlengkapan dapur. Ya, perlengkapan dapur semuanya lengkap masih kami simpan dengan rapi. Perlengkapan dapur yang setiap macamnya selalu berjumlah tiga dengan warna yang berbeda. Saya masih ingat mengapa engkau selalu membeli barang-barang itu tiga buah dengan tiga warna yang beda alasannya karena anak-anak ibu ada tiga orang maka setiap orangnya memiliki satu warnanya. ah, ada-ada saja. Ibu memang adil. Apa-apa selalu tiga mungkin biar kami bertiga tidak merasa kecil hati jika tidak engkau belikan.

Ibu, saya kangen banget sama ibu apalagi di saat terbentur masalah. Rasanya pengen sekali bisa curhat seperti dulu. Berbagi cerita denganmu, berbagi keluh kesah. Kita ngumpul sekeluarga, makan bareng sambil bercanda. Kenangan itu sungguh indah dan tak kan mungkin terganti.

Semuanya berubah sejak Allah memanggilmu.  Hari itu, saya tak tahu harus berbuat apa. Saya sangat binggung seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Saya tak tahu harus dari mana saya memulai hari sedangkan sosok yang menjadi penyemangat itu sudah tidak ada lagi di sampingku. Rasa takut, sedih, marah, penyesalan semuanya campur aduk.

Saya harus terbiasa menjadi seorang gadis yang mandiri. Menjadi motor bagi diri sendiri dan juga belajar bijaksana menghadapi berbagai macam persoalan. Tidak cengeng dan dewasa walaupun terkadang saat hati tak sanggup lagi menampung bebannya sendiri tak disengaja air mata ini mengalir juga.  Di lain sisi saya harus menjaga adik-adik sekaligus menjadi seorang kakak yang bijaksana. Saya tak boleh tampak cengeng di hadapan mereka walau hati ini juga sedang bersedih.

Terkadang saya berpikir, mengapa ibu tidak pernah ngomong kalo ibu akan pergi. Mengapa ibu tidak pernah bicara jika ibu akan meninggalkan kami. Saat itu saya kira ibu pasti sembuh, kita bisa jalan-jalan lagi, shopping bareng dan bisa menghadiri wisudaku. Keinginanku untuk mengajak ibu memperkenalkan kampusku akhirnya pupus. Sebelas hari setelah kelulusanku Allah memanggilmu.

Ibu, maafkan saya jika di saat nafas terakhirmu saya tak ada di sampingmu, menjagamu dan merawatmu. Saya merasa sangat bersalah dan menyesal sekali pada kebodohan saya. Inilah kebodohan saya yang paling bodoh mengapa saya tidak langsung berangkat siang itu tapi malah menunggu malam hari tiba. Seandainya waktu bisa diulang kembali, saya akan memperbaiki kesalahan itu.

Maafkan saya ibu, ampuni segala kesalahan saya. Saya tidak pernah bermaksud menyakitimu, mensia-siakanmu. Saya menyesal, sangat menyesal. Saya memang bodoh. Kucium kakimu sambil memohon ampunanmu. Saya tahu ibu adalah orang yang pemaaf, engkau bukanlah orang yang pendendam yang bisa menyimpan amarahmu terlalu lama.

Ibu, istirahatlah yang tenang. Biarlah segala macam permasalahan di dunia biar kami yang urus tak usah lagi engkau risaukan. Semoga di surga nanti kita bisa kumpul kembali bersama ayah, ibu, adik-adik dan juga My lovely Panda.

Semoga Allah mengampuni segala kesalahanmu, melapangkan kuburmu dan juga menerangkannya, dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka dan engkau di tempatkan di tempat yang paling indah, di surga.

Dari kami yang menyanyangimu,

Putri Sulungmu

About these ads